Jumat, 05 Agustus 2016

Freeze Time


“.. I got all I need when I got you and I, I look around me and see a sweet life, I’m stuck in the dark but you’re my flashlight, You getting me getting me through the night..”
“Hai, Vi!” Ren membuyarkan lagu ku.
“Oh, ayolah Ren.. Haruskah kamu selalu hadir disaat suara indah ku memenuhi dunia?” Aku mencabut kedua earphone dari telinga ku dan meletakkannya di meja.
Ren tersenyum geli dan menghampiri ku yang merajuk di ranjang, “Ohisashiburi ne..”
What?!”, aku belum begitu menguasai bahasa Jepang dan tentu saja itu berlaku sebaliknya bagi Ren.
Ren adalah segalanya bagi ku. Dia adalah teman, sahabat, musuh, saudara, orang asing, guru, orang tua, bahkan pacar, dan selingkuhan. Aneh kan? Begitulah kenyataan yang ku rasakan kapan pun aku bersama atau pun terpisah dengan Ren. Waktu yang kami lalui bersama tak bisa dikatakan sedikit maupun banyak, tapi kami merasa mengenal satu sama lain lebih baik dari mereka yang ada disekitar kami. Kepercayaan yang menjadi dasar hubungan kami dan pengkhianatan adalah larangan yang tak terdoktrin dan tak akan ada dalam perjalanan kami. Bersama melewati waktu yang berjalan, menapaki jejak pada bumi, dan sesekali menatap langit penuh kagum. Bukan hal mudah untuk kami terus bersama, tapi tak sulit juga bagi kami untuk saling berbagi. Dimanapun, kapanpun, dan apapun, selalu ada yang akan menjadi bagian dari kami.
Ren menatap langit-langit kamar ku, “udah lama kita gak natap bintang bareng.”
Sesaat aku melirik mata Ren dan kemudian ikut menatap langi-langit kamar ku yang dilapisi cat warna biru pucat.
“Mm, udah lama..” aku berbaring tanpa mengalihkan pandangan ku dan Ren pun melakukan hal yang sama.
“Bukannya bulan depan ada dark sky?”, tanya ku kegirangan setelah tersadar dengan hal yang ku lupakan.
Setelah menyadari sikap ku yang kegirangan seolah teringat akan hal yang harusnya tak ku lupakan, Ren kemudian menatap ku dengan tajam.
“Kamu melupakannya?”
Aku terdiam sejenak seolah tatapan Ren itu mengikat ku sejak pertama kali dia mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar ku.
“Hehe.. aku gak lupa kok, buktinya itu tadi aku sebut”
Ren menatap langit-langit lagi, “kamu gak berubah.”
Aku tak mengalihkan pandangan ku dari Ren. Perasaan yang ku miliki untuk Ren tak pernah bisa ku mengerti. Terkadang aku mengartikannya sebagai cinta, tapi tak jarang pula itu berarti kejahatan. Diawal pertemuan ku dengan Ren tujuan ku hanyalah untuk mencari hal istimewa darinya yang ku pikir akan berguna jika aku bisa mengenalnya lebih jauh. Dan sejak saat itu terlalu banyak hal yang mulai ku ketahui tentang Ren, hingga sekarang kami pun menjadi sedekat ini. Tak sedikit yang mengatakan bahwa kami bertemu untuk ditakdirkan bersama dan hati ku pun tak menolak hal itu. Tapi, kami berdua sama-sama tahu bahwa ada tembok besar yang menghalangi kami dan itu terlalu tinggi untuk bisa kami panjati untuk kemudian berdiri bersama dipuncaknya. Kami pun sama-sama tak ingin membahas apalagi menyinggung keberadaan tembok itu. Selama kami masih memiliki waktu bersama, kami ingin menikmatinya.
“Ren..”
Ren mengalihkan pandangannya pada ku.
“Apa Doraemon itu bisa diciptain di dunia nyata?” aku menatap langit-langit dengan hampa.
Ren melakukan hal yang sama, “Bisa jadi, tunggu abad ke-22”
“Apa kita bisa hidup sampai Doraemon itu ada?”
“Kita bisa hidup sebagai orang yang berbeda disaat itu tiba.”
Reinkarnasi. Itulah hal yang disinggung Ren dan aku tahu itu dengan baik. Kami belum pernah membahas hal itu dengan dalam, tapi aku merasa tahu itu cukup dalam. Terlahir kembali di dunia sebagai manusia adalah hal yang patut disyukuri oleh umat manusia, karena hasil perbuatan pada kehidupan sebelumnya tak selalu menjadikan manusia terlahir kembali sebagai manusia. Apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Begitulah sederhananya hukum karma yang berlaku di dunia. Aku dan Ren tak terlahir dari akar yang sama dan kami hidup dibesarkan dengan cara yang berbeda. Meski itu adalah hal yang wajar, tapi ketika itu menjadi topik pembicaraan kami maka itu akan menjadi kehancuran dari kebersamaan kami.
***
Well, tempat ini gak buruk.. Kamu emang gak bisa diragukan”, aku memuji Ren atas pilihannya untuk tempat kami berkemah menikmati fenomena dark sky yang terjadi malam ini.
“Api unggunnya udah siap. Kamu udah pake kaos kaki mu?” Ren cukup tahu banyak tentang ku, tak terkecuali dengan telapak kaki yang begitu sensitif dengan udara dingin.
Aku mengangkat sebelah kaki ku untuk menunjukkan kaki ku yang sudah terbalut kaos kaki blaster black-white.
Selagi Ren menyiapkan matras dan sebagainya di dalam tenda, aku berputar memandangi langit yang dipenuhi jutaan bintang yang berkilau. Aku mencoba mengingat kembali kapan kali pertama aku begitu mencintai langit dan segala hal tentangnya. Tapi itu terasa mustahil karena untuk beberapa alasan, aku mulai melupakan banyak hal yang seharusnya tak mudah untuk dilupakan.
“Tempat ini cukup jauh dari kota dan sepertinya disini gak terlalu ada polusi cahaya yang bisa mengurangi view dark sky.”
Ren memberikan ku secangkir teh hangat dan tanpa berpikir akupun langsung meminumnya.
Aku sadar teh yang diberikan Ren adalah ocha (teh hijau Jepang) dan aku cukup membencinya karena rasanya yang pahit, “Ocha?! Haruskah??”
Ren tersenyum tipis tanpa memandang ku, “Jangan banyak protes.”
Tanpa berkata lebih lagi, aku memilih berusaha untuk menikmati ocha sembari menatap bintang sebagai pemanisnya.
Sejak aku sadar aku mencintai langit dan segala hal tentangnya, aku begitu menginginkan saat-saat seperti ini. Menatap jutaan bintang sambil berbaring diatas hamparan rumput luas bersama seseorang yang begitu mengerti dan memahami siapa aku. Dan sekarang aku bersama Ren, seseorang yang tak mudah untuk ku jelaskan tapi begitu berarti. Aku sangat bersyukur atas segala waktu dan banyak hal tentang kami yang dituliskan Tuhan dalam hidup kami. Jika aku diberikan satu permintaan dalam hidup ku, aku hanya ingin selalu bersama dengan orang-orang yang ku sayang.
“Ren, kimi ga suki.”
Oremo daisuki dayo.”

Dibawah langit yang teramat indah ini, yang lukisannya tak selalu bisa ditangkap mata, sela jemari kami saling terisi satu sama lain. Sejauh ini tak ada yang berjalan dengan mulus ataupun berjalan dengan jauh dari prediksi. Aku dan Ren merasa mengendalikan waktu dengan cukup baik dan aku berharap kami bisa membekukan waktu indah kebersamaan kami ini selama yang kami inginkan. Jika keberuntungan ini masih milik kami, maka tak ada harapan lain selain kebersamaan kami.

Kamis, 04 Agustus 2016

空の下

“Ren, apa ini harus terjadi sama kita?”

Ren menggenggam tangan ku lebih erat, “Tak ada yang bisa kita sesali jika akhirnya begini dan dari awal ini sudah ada diprediksi kita kan? Perasaan yang kita miliki begitu membahagiakan dan kita sudah berjanji untuk menikmatinya hingga akhir kan?”

Aku tenggelam dalam dekapan Ren dan menikmati irama denyut jantungnya yang indah. Tak ada lagi yang ingin aku katakan atas apa yang terjadi, yang ku inginkan hanya waktu yang lebih lama untuk ku bersama dengan Ren.

Di bawah langit malam bertahtakan bintang-bintang, beralaskan rumput yang beriringan menari diterpa angin. Disinilah aku dan Ren yang terduduk mencoba untuk saling menguatkan meski masing-masing dari kami merasakaan rapuh atas kenyataan yang tak terbantahkan. Usia kami  baru beranjak menuju dunia yang lebih rumit, tapi kami juga ingin menikmati indahnya cerita yang disuarakan dunia. Kami bukan apa-apa di bawah bintang-bintang, meski terlihat kecil tapi mereka begitu besar disana dan begitu jauh untuk diraih. Mereka saksi atas kerapuhan kami yang tak bisa lari dari kenyataan. 

Setiap insan dunia tercipta dari kasih dan cinta oleh Sang Kuasa, mereka pun terlahir, hidup, dan mati dengan cinta. Bagi ku definisi cinta ialah tak terbatas, tergantung pada siapa yang mendefinisikan dan menjadikannya pusat dari pemikiran. Aku bukanlah gadis yang dipenuhi keistimewaan, tak berparas jelita, tak pula berlogika tinggi ataupun berakhlak mulia, aku hanya gadis biasa yang dipenuhi imajinasi dan mimpi-mimpi. Mencintai langit dengan segala kagum, tapi tak berusaha mengenal langit lebih jauh. Sama halnya dengan aku yang begitu mengagumi Ren, tapi tak berusaha untuk memahaminya lebih jauh. Apa ini hukuman atas usaha ku yang tak berjalan?

“Vi..”, Ren berlutut di depan ku dan menatap ku dalam-dalam.
“Ore ga suki, honto ni suki dayo.”

Aku tak kuasa lagi menahan air mata yang sedari tadi telah ku bendung. Tangis ku pecah dalam dekapan Ren dan aku merasakan getaran tubuh ku yang tak terkendali karena perasaan sesak atas kenyataan yang tak bisa ku terima. Aku menyukai Ren, mengagumi Ren, menyangi Ren, dan selalu ingin bersama dengan Ren. Mengapa rasa yang begitu berarti ini harus bisa ku lepaskan, bahkan ketika itu adalah untuk seorang yang benar-benar ingin ku jadikan tujuan dari perasaan ini? Mengapa kesempurnaannya tak bisa ku miliki disaat aku telah mendapatkan hatinya? Pikiran dangkal ku seolah ingin mendominasi seluruh ruang pada otak ku, “takdir macam apa ini?!”

Ren memeluk ku lebih erat dan aku benar-benar merasakan kehangatan tubuh Ren yang menyangiku dan tak ingin melepaskan ku. Aku ingin membekukan waktu saat ini. Tak ada hal lain yang ku ingin selain bersama dengan Ren, rasanya dunia ini sudah tak ada artinya lagi jika kami tak bersama. Kami mungkin masihlah naif, tapi bukan kah inilah yang dirasakan oleh mereka yang begitu saling menyangi dan tak ingin dipisahkan?

It’s talk about faith and related own relation with God. Can you see there are some right way with the problem of us? Yeah, certainly. Our religions is different and we know there is a way to break up the different. Then you will know that we have our own princip of our life each other. So, did you think it was easy? It’s no way. Please reset your mindset, if you want to give the solve.

Selasa, 19 Juli 2016

"He alwasy be the best (mine)"

あなたのベスト フレンド


“...tolong respon saya”
“Iya, kamu itu...”

Hampir tak ada pintaku yang tak kau penuhi, hampir tak ada pula niat baik ku yang tak kau terima meski sekarang cerita ini sudah berakhir. Baik itu untuk mu dan terasa sakit di awal permulaan ku. Meski begitu apapun itu kan ku lawan demi kawan terbaik yang pernah ku dapatkan. Aku ingin merengek seperti yang biasa ku lakukan, tapi aku tahu kau lelah dengan kekanak-kanakan ku itu. Meski terkadang aku menyebut mu begitu di depan orang lain, tapi di masa kala aku bercerita itu hanya akulah yang menjadi satu-satunya yang tahu bahwa kau yang terbaik. Tutur mu, sikap mu, pikiran mu, dan hampir segalanya yang membuat ku lelah untuk berpikir adalah sumber inspirasi ku dan terbaik bagi ku. Melalui tulisan yang tak bisa ku nyatakan dalam satu kata dan mungkin lewat gambar yang jua tak mampu menjelaskan fakta yang ku rasakan. Semoga inilah hal baik yang bisa ku lakukan untuk mengatakan pada dunia dan imajinasi ku sendiri bahwa kau adalah hal terbaik yang pernah ku dapat dan akan selalu begitu hingga akhir waktunya.
Aku tak merengek seperti yang biasa ku lakukan karena aku tahu kau lelah, memang begitulah faktanya. Perasaan yang terus berusaha ku singkirkan, mungkin itulah yang membuat ku merasa lebih baik jika begini karena aku tak mampu menjelaskannya jika harus terpaksa mengatakannya. Meski hal yang sekarang terjadi mungkin lebih buruk jika aku mengatakan ini sebelumnya, tapi aku tetap tak mampu dalam nyata. Akhir-akhir ini aku sangat senang dan tak bosan mendengarkan lagu “Suki” yang dinyanyikan oleh Kanayan. Sebelum aku tahu terjemahan lirik dari lagu itu, aku memang merasa bahwa lagu itu sangat cocok untuk ku saat ini dan ternyata memang benar. Aku terlalu takut untuk mengakuinya apalagi sampai mengatakannya. Terlalu lancang rasanya jika aku berani untuk mengatakannya. Aku mengenal mu lebih baik dari siapapun yang ada disana dan aku adalah bagian mu yang akan selalu ada disana. Karena segala tentang mu yang tak mampu ku lepaskan maka aku mengurung segala kebenaran tentang fakta itu dan tanpa sadar inilah akhir yang ku lakukan.
Pada hal besar yang menjadi pertikaian kita, tak mampu aku persalahkan dan tak ingin ku jelaskan. Aku hanya ingin kamu tahu apa yang aku pikirkan seperti saat kamu yang selalu dengan konyol memaksa ku untuk menonton video atau mendengarkan lagu yang juga kau sukai. Sama halnya dengan kau yang begitu, aku ingin kau tahu apa yang sedang dan akan ku pikirkan. Tapi tetap saja aku tak seperti kau yang bisa memaksa ku ataupun mengatakannya dengan mudah. Semakin besar rasanya jarak antara kita yang terhalang ilusi. Kau seperti bintang yang hanya dilihat oleh ku dan hanya milikku. Padahal nyatanya kau bukanlah milikku mesi kau adalah bintang yang memang ada disana. Apalagi yang bisa ku katakan jika semua yang ku tuliskan adalah benar?

Ruang dan waktu yang ada saat ini adalah diam mu yang memberi hampa pada ku. Telah aku katakan apa yang ingin ku katakan dan menjadi prioritas ku, meski tak ada respon dari mu dan aku hanya bisa berharap kau baik-baik saja dalam ruang yang tak bisa ku bayangkan maupun waktu yang tak bisa ku tembus. Seperti yang aku tahu dari cerita mu, maka aku yakin bahwa kau adalah baik disana dan meski tak baik kau selalu punya tempat baik yang tak akan membuat mu hampa. Dengan keyakinan aku bisa tenang dan asalkan aku yakin itu adalah baik, maka hanya hal baiklah yang akan terjadi. Meski hanya dalam bayang terkaan, pikiran yang tak terjelaskan, ruang yang tak tergapai, atau apapun yang tak benar-benar aku tahu,  aku yakin kau baik disana. Kau terbaik hingga hari ini dan akan selalu begitu. Bila nanti akan ada yang menandingi mu, aku tak akan pernah mengabaikan mu. Bintang ku yang tinggi, belahan (Gemini) yang melengkapi ku, idola yang menjadi sumber inspirasi, dan teman yang selalu ingin ku iringi, teruslah menjadi lebih baik. 

Jumat, 15 Juli 2016

Putih

“Sayang ...”
Awalnya canggung dan saya takut tapi seiring berjalannya waktu kamu gak mau ngebiarin itu berlanjut kan? Jadilah suasana kita hari ini gak canggung lagi. Terlalu mau sama kamu dan gak mau lepas dari kamu, mungkin itu sebabnya euforia ini gak bisa berhenti. Sama halnya dengan semua tentang mu yang gak pernah berhenti saya reka ulang dan tereka ulang dalam pikiran. Kyaaaaa sayang kamu.
Lagi-lagi kamu mau coba mainin perasaan saya ya? Pengen kesel, tapi saya malah senyum dan hampir ketawa baca chat mu. Aneh kan? Iya, saya hampir dan mau bertanya sebenarnya tentang chat mu tapi takut kebawa suasana efek ego yang gak bisa dikendaliin. Well, kalopun itu emang kebenarannya saya bisa apa? Saya pernah nyakitin kamu kan? Pasti. Jadi kalopun kamu nyakitin saya itu gak masalah, secara mental saya siap meski emosinya ntar mungkin bakal labil. Hehehe
Putih? Kenapa ya judul post ini putih? Saya juga cukup mikir tadi mau nulis apa dan ngasi judulnya apa dan saya kepikiran warna baju mu tadi, keinget kaca mata mu (warna framenya hitam sih, tapi kacanya bening kan? Dan saya tetep mikir “putih” hahaha), dan saya (lagi) suka warna putih, maka jadilah judul post ini “putih”. Putih itu campuran dari banyak warna dan kamu adalah orang yang bagi saya sudah dan masih serta saya harapin tetap ngasi saya banyak warna selama kita masih bersama ataupun terpisah nanti. Tapi gak peduli ruang dan waktu yang bakal misahin kita ntar, setiap kita pasti bawa kenangan masing-masing yang membekas kan? Jadi bagi saya selama kita masih bisa ngerasain itu maka akan selalu ada kata kita. Eaaaa hahaha. Kamu itu  segalanya buat saya. Dari sekedar temen bahkan pernah serasa jadi musuh, serasa sahabat yang aneh tapi baik juga diterima nasihatnya, pernah jadi pacar juga, dannn ntah apa lagi, yang jelas semuanya itu menyenangkan dan punya kesan masing-masing dan saya gak benar-benar nyesel atas semua itu. Sayang kamu (nama gak bisa disebut ya, kasian kamu hehehe).
Selalu dan tetap jadi lebih baik ya.. jangan sakit.. Selama atau sesaat apapun waktu yang kita punya, akan lebih baik kalo kita bareng kan? Aaa maafkan saya yang labil, tapi saya nulis ini tulus kok, sambil “horror” lagi (Hahaha).

Sayang kamu, mau selalu jadi milik kamu, dan berharap kamu selalu jadi milik saya..



Kamu yang terbaik dan kamu segalanya. Makasi (^v^)

Kamis, 14 Juli 2016

Langit ku

Mengagumi mu dari bawah sini, begitu membahagiakan dan tak terjelaskan. Banyak kata yang mungkin bisa saja digunakan, tapi.. rasanya tak pernah ada kata yang cukup dan pantas untuk menjelaskan segala hal yang ku rasakan.
Desah nafas menandakan kepasrahan akan hal yang tak ingin disebutkan. Bertahan. Mungkin kata itu cukup pantas untuk menjelaskan keadaan kita saat ini. Mungkin itu terdengar terbalik dari kenyataan kita yang sebenarnya, tapi maksud kata “Bertahan” itu bagi ku adalah.. masing-masing dari kita harus bertahan dengan apa yang masing-masing kita pegang. Tak peduli apakah setiap dari kita saling mengetahui ataupun tidak, tapi percayalah.. bila takdir adalah milik kita maka akan ada jalan untuk kita bersama. Mungkin bukan dikehidupan ini, tapi bisa saja dikehidupan selanjutnya atau sudah disaat sebelumnya. Dimensi waktu belumlah bisa kita lewati, tapi setiap kebersamaan kita adalah milik kita bukan? Jadi kapan pun itu aku pasti akan menikmatinya. Terlalu membahagiakan bahkan kadang sampai sulit ku ingat setiap detailnya. Saat ini semakin menyakitkan ketika bahkan waktu yang ada tak bisa mempersatukan kita. Apa yang harus kita lakukan jika segalanya tak bisa kita kendalikan? Bertahan. Kata itu ku rasa pantas.
Bermain dengan kata. Aku menyukainya. Meski tak banyak atau tak ada yang benar-benar mengerti bahwa aku begitu menyukai rangkaian kata yang bisa ku buat untuk orang-orang yang ku cintai, tak peduli apapun perasaan ku maka aku akan tetap merangkai kata demi kata.
Aku semau ku dan kau begitu tau itu. Sama seperti mu yang begitu mudah membaca ku, maka aku pun ingin seperti mu. Banyak hal yang bisa kita bagi, bahkan tanpa kita bagi kita sudah bisa memilikinya. Mungkin saat nanti setelah ini akan kita sebut perpisahan, tapi setelah sekian banyak meski dalam waktu terbatas, aku yakin disana masih ada waktu yang kita habiskan bersama dan bisa jadi akan semakin mempererat dari pada sebelumnya. Aku begitu menginginkan mu, karena seperti yang pernah ku bilang bahwa kau adalah idaman ku. Dari banyak khayalan dan impian yang ku buat, hampir semua ada pada mu. Tapi sekali lagi, tak semua bisa kita kendalikan. Walaupun ada keinginan yang bisa kita pertahankan, tapi tentu kita sama-sama tahu bahkan setiap orang yang kita kenalpun tau bahwa nanti akan ada waktu yang pasti akan memisahkan kita. Menyakitkan.
Ingin berada di pelukan mu, merasakan aroma tubuh mu, dan tentunya pelukan mu yang begitu menenangkan. Tentu, setelah ini tak akan ada lagi bukan? Bertahan. Aku yakin pelukan di jalan setapak sempit di pinggir pantai itu adalah pelukan terakhir kita yang cukup manis dan begitu membekas di pikiran ku. Sama seperti pelukan pertama kita, itu juga begitu manis hingga aku bisa menangis dan melukis senyum pada bibir ku yang tertahan. Begitu merindukan mu hingga tak ada lagi yang bisa ku pikirkan selain otak ku yang hanya bekerja untuk mengetikan setiap kata dalam tulisan ini.
Setelah ini aku ingin menjadi lebih berarti, menunjukan kelebihan ku untuk mu meski kau tak melihatnya. Tapi aku tetap tau bahwa yang ku lakukan adalah untuk mu. Harapan ku, kali ini aku tak akan mengecewakan mu dan semoga Tuhan mengizinkan ku untuk itu.

Terlalu mengagumi mu.. setiap warna yang kau hadirkan, setiap suasana yang kau ciptakan.. mata ku, hati ku, perasaan ku, pikiran ku.. segalanya begitu mengagumi mu. Tak ada kata yang lebih pantas ku rasa selain, aku mencintai mu.. Langit ku..

Selasa, 15 Maret 2016

Tak Semudah Saat Ia Datang


      Punya teman cowok yang over PD (percaya diri), siapa lagi kalau bukan Rendi. Emang sih postur badan oke, otak lumayan lah, asik, seru, walaupun kadang nge-krik sendiri. Tapi namanya manusia pasti ada saja kurangnya dan biarlah itu menjadi titik hitam yang tak perlu di ungkap secara gamblang. Rendi, yang mungkin banyak buat cewek mencoba untuk mengenal dia lebih jauh ternyata bisa juga kurang peka dengan sekitarnya. Tidak usah terlalu jauh memandang, lihat saja yang ada di sekitar. Senyum tulus tanpa rasa terpaksa yang senantiasa memperlihatkan wajah riang gembira meski di cela. Gadis imut yang selalu menampakkan wajah tak ada masalah, wajah yang selalu membiarkan senyum bahagia muncul secara alamiah seakan membuat orang yang memandangnya menilai bahwa ia adalah gadis periang yang di utus Tuhan untuk membagi kebahagian yang ia punya kepada semua orang yang ada disekitarnya. Tulus dan penyabar meski kadang ingin menentang tapi itulah Tita yang ku kenal, gadis tanpa masalah yang selalu ceria.
          “Aku gagah kan..”, pernyataan over  PD dari siapa lagi kalau bukan Rendi. Aku yang mendengar hanya tersenyum sinis ke arahnya seolah mengatakan bahwa aku amat tidak setuju. Tapi selepas dari itu secepat kilat aku bisa melihat seseorang yang ada di sudut keramaian memperhatikan Rendi dengan mata berbinar. Senyum tulus, itulah yang aku lihat dan aku tau alasannya.
          Cinta yang dipendam dan mungkin akan usang jika tak tertuang. Tapi bagaimana bisa terungkap jika pertanda adanya perasaan yang sama diantara dua insan belumlah menampak. Apa yang ada bisa saja tak terlihat, tapi mereka yang terlalu peduli akan selalu bisa melihat apa yang tak kasat menjadi amat jelas di depan mata.
          Gadis yang tulus, yang senantiasa membantu segala kesusahan yang dialami dan dihadapi Rendi. Gadis yang tak pernah menyerah memberi pertanda bahwa ia cinta, ia peduli, dan betapa ia ingin memiliki dan dimiliki oleh dia yang tak henti ada dalam penglihatannya. Rendi yang terlalu percaya diri  dan terlalu tidak peduli, masa bodoh dengan yang terjadi, asal ia tak rugi maka tak akan ada masalah baginya. Ketulusan yang diberi tak kunjung memberi arti hingga akhirnya kesakitan mulai merajai sisi gelap yang mulai hadir atas kesabaran yang terlalu meninggi dan tak membuahkan hasil.
          “Siapa ya yang mau jadi pacar aku? Bosen jadi jomblo”, nada merintih yang di buat-buat itu terlihat jelas dari mimik wajahnya. Rendi yang asal ketus mencoba untuk meminta pendapatku. Tapi aku lebih masa bodoh, dia lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Sekali lagi aku melirik ke sudut lain. Tentu saja di sana aku menemukan Tita yang sepertinya ingin benar-benar mencapai puncak dari keinginannya. Dan benar saja, Tita langsung membuka suara dengan mantapnya. “Aku mau kok Ren..”, senyum tulus terlihat dari sudut bibirnya dan spontan membuat semua yang ada di sekitarnya yang mendengar bersorakan meneriakinya. Rendi hanya menatap bingung dan acuh, sungguh jika aku menjadi Tita akan ku tampar saja laki-laki itu.
          “Ha? Kamu?? Tidak tidak”, kata-kata itu pastilah amat menyakitkan terdengar di telinga Tita. Tapi ia tetap saja tersenyum dan aku tahu dibalik senyum itu ada luka yang timbul akibat dari kata-kata Rendi tadi.
          “Sombong kamu Ren! Tita itu tulus jawabnya.. Kamu yang sopan dikit dong sama cewek! Belum pernah kena tampar ya?”, aku ketus saja serasa aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Tita. Biarlah dengan pendapat orang yang mungkin menganggap ku aneh. Aku hanya peduli dengan ketulusan apalagi jika itu terpendam dan disakiti begitu saja tanpa pernah bisa dicoba untuk dimengerti.
          Ketulusan yang bertahan hingga bentang waktu yang panjang, serasa tak ada rintangan terasa meski hujan badai telah dilanda. Aku yang tak tahu pasti tapi tetap percaya pada keyakinan bahwa cinta tak mudah pergi seperti semudah ia datang menghampiri. Dan beginilah adanya kini, Tita yang ku rasa semakin tersakiti oleh ketidak pedulian Rendi yang malah asik dengan kepentingannya sendiri dan terlebih lagi dengan sengaja menyakiti Tita di depan matanya.
          Wajah bangga berusaha jelas untuk digantungkan di atas wajahnya, “Pilih Bunga atau Intan ya? Susah emang kalau jadi cowok ganteng. Susah milihnya kalau sudah kayak begini.” “Resiko orang ganteng Ren..”, sahut salah satu teman ku yang bernama Rio. Yah, dia hampir sama saja dengan Rendi, tapi ia tidak selebih Rendi yang rasanya selalu ingin ku lempar dengan sepatu.
          “Minta pendapat saya Ren? Lihat disekitarmu yang lebih tulus sama kamu”, Rendi sadar siapa orang yang ku maksud dan ia hanya mencibir tanda tak peduli.
          Semakin lama Rendi semakin sibuk dengan dua gadis baru yang sedang ia dekati dan ingin ia pacari. Hari-hari Rendi selalu dipenuhi dengan kehadiran dua gadis itu, entah selalu hadir lewat cerita yang dikumandangkan Rendi, sampai peristiwa nyata yang tertangkap mata saat Rendi sedang bersama dengan kedua gadis itu dalam tempat dan waktu yang berbeda. Sungguh dekat terlihat dan membuat siapapun yang melihatnya akan berpikir bahwa mereka memiliki hubungan special. Seperti tak ada jarak diantara keduanya, terlebih saat Rendi sedang bersama Bunga. Terlihat begitu manis sampai-sampai tak ada satu pun yang ingin mengganggu percakapan yang sedang berjalan diantara keduanya.  Perasaan suka yang tergambar jelas dari setiap ucapan dan gerak gerik dalam kebersamaan mereka, menguatkan pernyataan jelas bahwa mereka lebih dari sekedar teman. Dan akhirnya semua tahu bahwa Rendi telah memilih Bunga dan itu berarti Rendi telah memiliki seseorang dan dimiliki oleh seseorang yang tak lain adalah Bunga. Gadis tinggi semampai dengan paras menawan yang membuat hati dan perasaan siapa pun yang melihatnya merasa damai dan tak pernah bosan untuk melihatnya lebih lama. Mungkin itulah yang dirasakan Rendi hingga akhirnya ia menjatuhkan pilihaannya kepada Bunga.  
          Kebahagiaan yang selalu menemani hari Rendi dan selalu berbanding terbalik dengan keseharian Tita. Rasa sakit yang merasuk hingga menembus hati kecil yang tadinya berdinding tebal yang terbuat dari kekuatan ketulusan yang tak pernah goyah meski kepedulian tak kunjung singgah mencicipi ketulusan yang harusnya diberi. Beginilah akhir yang diberi, tanpa perlawanan Tita hanya mengalah. Mengalah dengan perasaannya bahwa ia tak bisa memenangkan apa yang selalu ingin ia menangkan. Mengalah untuk kesekian kalinya atas cobaan yang silih berganti menggoyahkan kekuatan cinta yang penuh ketulusan. Mengalah untuk bisa menang dan bangkit dari keterpurukan yang mungkin akan menemaninya dalam beberapa rentang waktu penuh keperihan. Aku percaya Tita adalah gadis kuat bahkan lebih kuat dari yang ku lihat, pastinya ia akan sanggup melalui hari-hari menuju pengobatan diri untuk segera meninggalkan perasaan lama dan merelakan apa yang telah terjadi dan menjadikan itu sebagai catatan pengalaman di lembar hidup yang telah lewat.
Cinta yang lahir dari ketulusan akan berbuah manis pada akhirnya. Tapi buah yang manis itu tak harus hadir dari berkat kumbang yang diinginkan menyerbuki bunga cinta yang telah bermekaran. Ada takdir lain yang diberi Tuhan sebagai karunia terindah yang akan terasa jauh lebih manis dan lebih indah sebagai hadiah ketulusan yang terus di jaga dan dibiarkan tumbuh dengan inginnya. Cinta yang tak akan mudah menghilang bahkan memudar seperti semudah ia hadir dikala taman jiwa yang sepi dan penuh kerinduan akan rasa kepedulian dari jiwa lain. Cinta yang bersemi hingga berbuah manis meski tanpa benih unggul yang diinginkan, pasti ada saatnya nanti buah yang jatuh akan lebih terasa manis dari yang diharapkan.
           Begitulah akhirnya Tita yang terus bangkit dan akhirnya menemukan cahaya baru dari ketulusan yang selama ini kasat mata olehnya. Bayang dari masa lalu dimana cinta itu pernah tumbuh dan setulus kasih yang selalu ia bayangkan sekejap hadir dalam waktu yang tak terduga. Kembalinya sang bintang dari masa lalu yang muncul sebagai mentari di kesendirian hati yang sedang terlukai. Wawan sang pahlawan bisa jadi menjadi labuhan ketulusan yang selama ini terpendam. Biarlah ia yang menyiakan mendapat ganjaran. Kehidupan di depan tak ada yang tertebak dan nyatanya, cinta terbalaskan oleh bintang lain yang lebih benderang dan nyata dihadapan. Cinta memang tak akan mudah menghilang seperti semudah saat ia datang.


Author : Zee

Senin, 14 Maret 2016

My Comment



Cek this


And this is my comment..

Kalo dia bilang kitab itu diubah seiring zaman, trus kenapa dia gak berpikir kalo Quran bisa juga dirubah? Dia udah hidup berapa ratus abad sih sampe bisa ngomong begitu? Seenaknya ngomong tentang keyakinan. Saya gak menghina agama ato kepercayaan yang dianut. Tapi manusianya, perkataannya, yang gak bisa mikirin orang lain itu yang saya pertanyakan. Saya gak bawa agama atau keyakinan apapun untuk memperdebatkan ini, tapi saya mau tahu seberapa kuat dan banyaknya pengetahuan orang itu

Saya jelas amat mau berdialog sma orang itu, tapi saya gak lancar bahasa inggris dan males translate. Kalo kalian yang baca ngerasa tergerak, tanyain "Kenapa Tuhan itu ada? Kenapa Tuhan menciptakan segalanya? Kenapa hanya manusia yang bisa berpikir? Kenapa banyak agama? Dan kalo emang awalnya hanya ada satu agama dan semua agama yang ada adalah hasil dari perubahan kitab awal, seberapa yakin anda tentang hal tersebut? Anda sudah hidup berapa lama? Anda sudah mengitari dunia mana saja? Apa saja yang anda tahu tentang dunia? Seberapa yakin anda dengan jawaban-jawaban anda?"

Mungkin cukup itu aja yang bisa saya sebutin. Dan sebelum dia menjawab ataupun kalian membaca ini, saya sudah punya jawaban dari semuanya.

"Kamu semua itu manusia ciptaan Tuhan, apapun yang kamu yakini maka dari situlah kamu bisa menjawabnya. Gak akan ada jawaban mutlak tentang ilmu keTuhanan karena gak ada seorang pun di dunia ini yang berjiwa murni dan bisa mendapatkan jalan langsung menuju Tuhan dan membaginya pada yang ada di bumi. Sadari keterbatasan mu dan jangan lewati batasan mu. Hargai perbedaan yang ada dan biarkan mereka yang berbeda dari mu mencari dan menulusuri jalan mereka sendiri. Cukup ingatkan mereka tentang apa yang mereka ikuti, jangan cela dan merendahkannya begitu saja. Kita semua disini karena penciptaan Maha Agung, tidak peduli apapun itu tapi masing-masing kita mempunyai keyakinan yang berbeda. Bahkan seorang atheis pun pasti berusaha menelusuri jalannya, meski itu sadar ataupun tidak. Sekali lagi biarkan mereka pada keyakinan mereka, kamu tidak akan benar-benar menjadi yang utama atau menjadi pemimpin atas jalan menuju kesempurnaan karena kita itu sama, hanya kelahiran kita yang berbeda. JANGAN MENGGANGGU KEYAKINAN LAIN".


Dan kesimpulannya,Hanya Tuhan yang memiliki jawaban mutlak atas segala pertanyaan. Bahkan ilmuan atau pun dokter gak bisa menjamin segala ilmu mereka 100% karena walaupun ketidaktepatan mereka hanya 0,1% tapi itulah kekuatan dan kemutlakan Tuhan yang akan merubah keyakinan 99,9% yang ada.