Tampilkan postingan dengan label #9697. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #9697. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 November 2016

Salah ku..

Apa yang ada pada ku rasanya tak pernah benar. Kelahiran ku dan kehadiran ku, apa hingga kematian ku nanti pun adalah sebuah kesalahan? Lalu dimanakah seharusnya keberadaan ku ini ada? Aku kalut, tak punya arah, tak punya pijakan, sandaran, dan tumpuan. Salah ku menjauh secara perlahan dari jalan yang Ia gariskan. Menjauh dari apa yang seharusnya ku lakukan. Salah ku menghilangkan jati diri ku, memudarkannya secara perlahan hingga disaat aku seharusnya bisa betindak, aku tak punya keberanian, tak punya alasan, bahkan tujuan dari apapun yang harusnya aku bisa. Aku salah, benar-benar salah dan yang tersisa hanya penyesalan. Penyesalan yang takkan merubah apapun, penyesalan yang takkan ada gunanya jika hanya terus berdiam dalam lingkaran ketakutan. Dalam tawa yang mereka lihat atau lazimnya sikap ku yang mereka rasa, aku bukan lah apa-apa. Aku penipu, pemanipulasi, pembohong, terhina. Tak ada ruang dan tempat yang bisa menerima keberadaan ku. Sungguh aku ingin pergi. Sungguh, aku benar-benar ingin pergi.

Belum lama, bahkan terlalu sering hingga sekarang terasa puncaknya. Dia, laki-laki yang pernah memberikan ku kepercayaannya yang berharga. Kepercayaan bak intan yang tak ternilai harganya di jagad manapun. Aku dengan ego manusia ku yang dia dan aku benci juga, adalah penyebab utama dari kehancuran ini. Tak ada yang bisa aku pikirkan, ku jelaskan, ku katakan, dan ku rasakan. Sesal ini begitu menyiksa ku hingga aku benar-benar ingin pergi. Meski tak ada tujuan yang ku persiapkan, aku hanya ingin pergi jauh darinya bahkan bisa lenyap dalam kehidupannya baik itu di masa lalu, saat ini, dan nanti. Aku pernah memohon kepada Tuhan untuk memberikan keberuntungan ku. Sekarang aku berpikir perlahan keberuntungan ku mulai lenyap, tapi setelah ku pikir lagi, ini adalah karma dari perbuatan ku yang tak bisa merasakan sakit dari orang lain atas perbuatan ku. Memahami apa yang ada, mungkin sekarang saatnya aku kembali pada jalan yang seharusnya. Rasanya berat ketika ingin melangkah, tapi aku tahu kemana tepatnya aku harus berjalan.

Perasaan ini lebih dari sekedar kalut, mengambang, bak asap yang hanya membumbung mengikuti arah angin, lenyap tanpa diketahui tapi terasa sakitnya dalam paru. Aku hanya berusaha menepis semua kegalauan ini. Terkadang aku ingin meneteskan air mata, tapi sakit di dada ini membuat air mata itu begitu sulit dikeluarkan. Aku tak bisa membahasakannya dengan kata-kata. Perasaan sesal yang tiada tara, dada yang sakit seperti tertindih beban berat, air mata yang bagaikan luka tersumbat yang menyiksa. Tak ada yang bisa ku katakan lagi. Ku pikir mungkin dengan menulis ini perasaan ku bisa cukup tenang. Untuk beberapa hari ke depan aku ada ujian di kampus, jadi aku berusaha keras untuk bisa membuat pikiran ku fokus. Ujian tadi sudah ku lewati dengan benar-benar bodoh. Esok tak boleh lagi, tak boleh, dan benar-benar tak boleh.

Aku ingin menemui guru ku dan teman ku, yang pernah begitu menyayangi ku dan membanggakan ku. Harap besar ku, aku masih diterima, dimaafkan, dan tidak diacuhkan. Memulai memang selalu membuat ku takut. Tapi aku terlalu kesal untuk tidak mencobanya sama sekali. Demi orang yang ku sayang, demi orang yang ku cinta, dan demi mereka yang pernah dan masih menyayangi dan mencintai ku bahkan tanpa ku keteahui, ku harap esok adalah awal langkah ku untuk membalas semua kebaikan kalian. Ku harap esok adalah langkah yang membuat ku kemabali menjadi baik dan membawa ku ke arah yang lebih baik lagi. 
Aku tak menginginkan piala atau penghargaan atas perbuatan ku, aku hanya ingin terus bersama mereka yang ku sayangi dan bisa membalas perlakuan mereka yang menyayangiku. Mungkin aku hanya bisa berkata-kata, tapi setelah ini aku akan berusaha lebih keras lagi untuk tidak sekedar kata-kata. 

“Ren, andai kamu membaca ini.. aku menyesal tapi merasa tak pantas untuk meminta maaf. Aku bukan orang baik, apalagi ketika dirundung masalah yang bertubi seperti ini. Kamu tahu bahwa aku pernah berlari? Hingga sekarang aku masih berlari dari semua masalah itu. Aku ingin menangis tapi tak bisa. 
Ren, aku benar-benar menyesal. Aku harap kamu baik-baik saja dan tetap merasakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup mu.”

Kamis, 01 September 2016

Angin

Pembawa pesan yang tak pasti namun selalu menjadi andalan untuk mereka yang tak punya kekuatan.


Diatas tanah tempat ku tumbuh dan berkembang menjadi gadis yang masih berada dalam prakiraan, disini aku selalu mengandalkan mu. Tak terhitung berapa pesan yang telah ku kirimkan dan tanpa peduli itu tersampaikan. Aku penuh dengan kesedihan dan aku telah meminta untuk bisa terus menangis seumur hidupku karena ku rasa aku tak bisa hidup tanpa tetesan-tetesan air mata yang sepenuhnya mewakili perasaan ku. Cinta yang tak terbantah dan terlukai dengan kehadiran harapan ku itu hanya bisa ku persembahkan maaf. Tanpa kekuatan aku ingin menitip pesan..
“Teruslah menjadi lebih baik.. Aku yakin kau (kalian) baik disana dan jika kau (kalian) dalam keadaan tak baik maka aku pun yakin ada tempat dan waktu (serta seseorang) yang mampu membuat kau (kalian) lebih baik. Apapun yang terjadi adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan, tak peduli seburuk apapun itu dimata dunia. Bila waktu kita masih ada, pasti ada tempat disana untuk kita bertemu.”

Angin.. bawalah selalu pesan ku kemanapun kau berhembus. Mungkin di jalan yang kau lalui akan ada dia yang menjadi penerimanya dan ada mereka yang mengharapkan sedikit semangat ku yang bisa jadi akan berguna.

Selasa, 15 Maret 2016

Tak Semudah Saat Ia Datang


      Punya teman cowok yang over PD (percaya diri), siapa lagi kalau bukan Rendi. Emang sih postur badan oke, otak lumayan lah, asik, seru, walaupun kadang nge-krik sendiri. Tapi namanya manusia pasti ada saja kurangnya dan biarlah itu menjadi titik hitam yang tak perlu di ungkap secara gamblang. Rendi, yang mungkin banyak buat cewek mencoba untuk mengenal dia lebih jauh ternyata bisa juga kurang peka dengan sekitarnya. Tidak usah terlalu jauh memandang, lihat saja yang ada di sekitar. Senyum tulus tanpa rasa terpaksa yang senantiasa memperlihatkan wajah riang gembira meski di cela. Gadis imut yang selalu menampakkan wajah tak ada masalah, wajah yang selalu membiarkan senyum bahagia muncul secara alamiah seakan membuat orang yang memandangnya menilai bahwa ia adalah gadis periang yang di utus Tuhan untuk membagi kebahagian yang ia punya kepada semua orang yang ada disekitarnya. Tulus dan penyabar meski kadang ingin menentang tapi itulah Tita yang ku kenal, gadis tanpa masalah yang selalu ceria.
          “Aku gagah kan..”, pernyataan over  PD dari siapa lagi kalau bukan Rendi. Aku yang mendengar hanya tersenyum sinis ke arahnya seolah mengatakan bahwa aku amat tidak setuju. Tapi selepas dari itu secepat kilat aku bisa melihat seseorang yang ada di sudut keramaian memperhatikan Rendi dengan mata berbinar. Senyum tulus, itulah yang aku lihat dan aku tau alasannya.
          Cinta yang dipendam dan mungkin akan usang jika tak tertuang. Tapi bagaimana bisa terungkap jika pertanda adanya perasaan yang sama diantara dua insan belumlah menampak. Apa yang ada bisa saja tak terlihat, tapi mereka yang terlalu peduli akan selalu bisa melihat apa yang tak kasat menjadi amat jelas di depan mata.
          Gadis yang tulus, yang senantiasa membantu segala kesusahan yang dialami dan dihadapi Rendi. Gadis yang tak pernah menyerah memberi pertanda bahwa ia cinta, ia peduli, dan betapa ia ingin memiliki dan dimiliki oleh dia yang tak henti ada dalam penglihatannya. Rendi yang terlalu percaya diri  dan terlalu tidak peduli, masa bodoh dengan yang terjadi, asal ia tak rugi maka tak akan ada masalah baginya. Ketulusan yang diberi tak kunjung memberi arti hingga akhirnya kesakitan mulai merajai sisi gelap yang mulai hadir atas kesabaran yang terlalu meninggi dan tak membuahkan hasil.
          “Siapa ya yang mau jadi pacar aku? Bosen jadi jomblo”, nada merintih yang di buat-buat itu terlihat jelas dari mimik wajahnya. Rendi yang asal ketus mencoba untuk meminta pendapatku. Tapi aku lebih masa bodoh, dia lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Sekali lagi aku melirik ke sudut lain. Tentu saja di sana aku menemukan Tita yang sepertinya ingin benar-benar mencapai puncak dari keinginannya. Dan benar saja, Tita langsung membuka suara dengan mantapnya. “Aku mau kok Ren..”, senyum tulus terlihat dari sudut bibirnya dan spontan membuat semua yang ada di sekitarnya yang mendengar bersorakan meneriakinya. Rendi hanya menatap bingung dan acuh, sungguh jika aku menjadi Tita akan ku tampar saja laki-laki itu.
          “Ha? Kamu?? Tidak tidak”, kata-kata itu pastilah amat menyakitkan terdengar di telinga Tita. Tapi ia tetap saja tersenyum dan aku tahu dibalik senyum itu ada luka yang timbul akibat dari kata-kata Rendi tadi.
          “Sombong kamu Ren! Tita itu tulus jawabnya.. Kamu yang sopan dikit dong sama cewek! Belum pernah kena tampar ya?”, aku ketus saja serasa aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Tita. Biarlah dengan pendapat orang yang mungkin menganggap ku aneh. Aku hanya peduli dengan ketulusan apalagi jika itu terpendam dan disakiti begitu saja tanpa pernah bisa dicoba untuk dimengerti.
          Ketulusan yang bertahan hingga bentang waktu yang panjang, serasa tak ada rintangan terasa meski hujan badai telah dilanda. Aku yang tak tahu pasti tapi tetap percaya pada keyakinan bahwa cinta tak mudah pergi seperti semudah ia datang menghampiri. Dan beginilah adanya kini, Tita yang ku rasa semakin tersakiti oleh ketidak pedulian Rendi yang malah asik dengan kepentingannya sendiri dan terlebih lagi dengan sengaja menyakiti Tita di depan matanya.
          Wajah bangga berusaha jelas untuk digantungkan di atas wajahnya, “Pilih Bunga atau Intan ya? Susah emang kalau jadi cowok ganteng. Susah milihnya kalau sudah kayak begini.” “Resiko orang ganteng Ren..”, sahut salah satu teman ku yang bernama Rio. Yah, dia hampir sama saja dengan Rendi, tapi ia tidak selebih Rendi yang rasanya selalu ingin ku lempar dengan sepatu.
          “Minta pendapat saya Ren? Lihat disekitarmu yang lebih tulus sama kamu”, Rendi sadar siapa orang yang ku maksud dan ia hanya mencibir tanda tak peduli.
          Semakin lama Rendi semakin sibuk dengan dua gadis baru yang sedang ia dekati dan ingin ia pacari. Hari-hari Rendi selalu dipenuhi dengan kehadiran dua gadis itu, entah selalu hadir lewat cerita yang dikumandangkan Rendi, sampai peristiwa nyata yang tertangkap mata saat Rendi sedang bersama dengan kedua gadis itu dalam tempat dan waktu yang berbeda. Sungguh dekat terlihat dan membuat siapapun yang melihatnya akan berpikir bahwa mereka memiliki hubungan special. Seperti tak ada jarak diantara keduanya, terlebih saat Rendi sedang bersama Bunga. Terlihat begitu manis sampai-sampai tak ada satu pun yang ingin mengganggu percakapan yang sedang berjalan diantara keduanya.  Perasaan suka yang tergambar jelas dari setiap ucapan dan gerak gerik dalam kebersamaan mereka, menguatkan pernyataan jelas bahwa mereka lebih dari sekedar teman. Dan akhirnya semua tahu bahwa Rendi telah memilih Bunga dan itu berarti Rendi telah memiliki seseorang dan dimiliki oleh seseorang yang tak lain adalah Bunga. Gadis tinggi semampai dengan paras menawan yang membuat hati dan perasaan siapa pun yang melihatnya merasa damai dan tak pernah bosan untuk melihatnya lebih lama. Mungkin itulah yang dirasakan Rendi hingga akhirnya ia menjatuhkan pilihaannya kepada Bunga.  
          Kebahagiaan yang selalu menemani hari Rendi dan selalu berbanding terbalik dengan keseharian Tita. Rasa sakit yang merasuk hingga menembus hati kecil yang tadinya berdinding tebal yang terbuat dari kekuatan ketulusan yang tak pernah goyah meski kepedulian tak kunjung singgah mencicipi ketulusan yang harusnya diberi. Beginilah akhir yang diberi, tanpa perlawanan Tita hanya mengalah. Mengalah dengan perasaannya bahwa ia tak bisa memenangkan apa yang selalu ingin ia menangkan. Mengalah untuk kesekian kalinya atas cobaan yang silih berganti menggoyahkan kekuatan cinta yang penuh ketulusan. Mengalah untuk bisa menang dan bangkit dari keterpurukan yang mungkin akan menemaninya dalam beberapa rentang waktu penuh keperihan. Aku percaya Tita adalah gadis kuat bahkan lebih kuat dari yang ku lihat, pastinya ia akan sanggup melalui hari-hari menuju pengobatan diri untuk segera meninggalkan perasaan lama dan merelakan apa yang telah terjadi dan menjadikan itu sebagai catatan pengalaman di lembar hidup yang telah lewat.
Cinta yang lahir dari ketulusan akan berbuah manis pada akhirnya. Tapi buah yang manis itu tak harus hadir dari berkat kumbang yang diinginkan menyerbuki bunga cinta yang telah bermekaran. Ada takdir lain yang diberi Tuhan sebagai karunia terindah yang akan terasa jauh lebih manis dan lebih indah sebagai hadiah ketulusan yang terus di jaga dan dibiarkan tumbuh dengan inginnya. Cinta yang tak akan mudah menghilang bahkan memudar seperti semudah ia hadir dikala taman jiwa yang sepi dan penuh kerinduan akan rasa kepedulian dari jiwa lain. Cinta yang bersemi hingga berbuah manis meski tanpa benih unggul yang diinginkan, pasti ada saatnya nanti buah yang jatuh akan lebih terasa manis dari yang diharapkan.
           Begitulah akhirnya Tita yang terus bangkit dan akhirnya menemukan cahaya baru dari ketulusan yang selama ini kasat mata olehnya. Bayang dari masa lalu dimana cinta itu pernah tumbuh dan setulus kasih yang selalu ia bayangkan sekejap hadir dalam waktu yang tak terduga. Kembalinya sang bintang dari masa lalu yang muncul sebagai mentari di kesendirian hati yang sedang terlukai. Wawan sang pahlawan bisa jadi menjadi labuhan ketulusan yang selama ini terpendam. Biarlah ia yang menyiakan mendapat ganjaran. Kehidupan di depan tak ada yang tertebak dan nyatanya, cinta terbalaskan oleh bintang lain yang lebih benderang dan nyata dihadapan. Cinta memang tak akan mudah menghilang seperti semudah saat ia datang.


Author : Zee

Senin, 14 Maret 2016

My Comment



Cek this


And this is my comment..

Kalo dia bilang kitab itu diubah seiring zaman, trus kenapa dia gak berpikir kalo Quran bisa juga dirubah? Dia udah hidup berapa ratus abad sih sampe bisa ngomong begitu? Seenaknya ngomong tentang keyakinan. Saya gak menghina agama ato kepercayaan yang dianut. Tapi manusianya, perkataannya, yang gak bisa mikirin orang lain itu yang saya pertanyakan. Saya gak bawa agama atau keyakinan apapun untuk memperdebatkan ini, tapi saya mau tahu seberapa kuat dan banyaknya pengetahuan orang itu

Saya jelas amat mau berdialog sma orang itu, tapi saya gak lancar bahasa inggris dan males translate. Kalo kalian yang baca ngerasa tergerak, tanyain "Kenapa Tuhan itu ada? Kenapa Tuhan menciptakan segalanya? Kenapa hanya manusia yang bisa berpikir? Kenapa banyak agama? Dan kalo emang awalnya hanya ada satu agama dan semua agama yang ada adalah hasil dari perubahan kitab awal, seberapa yakin anda tentang hal tersebut? Anda sudah hidup berapa lama? Anda sudah mengitari dunia mana saja? Apa saja yang anda tahu tentang dunia? Seberapa yakin anda dengan jawaban-jawaban anda?"

Mungkin cukup itu aja yang bisa saya sebutin. Dan sebelum dia menjawab ataupun kalian membaca ini, saya sudah punya jawaban dari semuanya.

"Kamu semua itu manusia ciptaan Tuhan, apapun yang kamu yakini maka dari situlah kamu bisa menjawabnya. Gak akan ada jawaban mutlak tentang ilmu keTuhanan karena gak ada seorang pun di dunia ini yang berjiwa murni dan bisa mendapatkan jalan langsung menuju Tuhan dan membaginya pada yang ada di bumi. Sadari keterbatasan mu dan jangan lewati batasan mu. Hargai perbedaan yang ada dan biarkan mereka yang berbeda dari mu mencari dan menulusuri jalan mereka sendiri. Cukup ingatkan mereka tentang apa yang mereka ikuti, jangan cela dan merendahkannya begitu saja. Kita semua disini karena penciptaan Maha Agung, tidak peduli apapun itu tapi masing-masing kita mempunyai keyakinan yang berbeda. Bahkan seorang atheis pun pasti berusaha menelusuri jalannya, meski itu sadar ataupun tidak. Sekali lagi biarkan mereka pada keyakinan mereka, kamu tidak akan benar-benar menjadi yang utama atau menjadi pemimpin atas jalan menuju kesempurnaan karena kita itu sama, hanya kelahiran kita yang berbeda. JANGAN MENGGANGGU KEYAKINAN LAIN".


Dan kesimpulannya,Hanya Tuhan yang memiliki jawaban mutlak atas segala pertanyaan. Bahkan ilmuan atau pun dokter gak bisa menjamin segala ilmu mereka 100% karena walaupun ketidaktepatan mereka hanya 0,1% tapi itulah kekuatan dan kemutlakan Tuhan yang akan merubah keyakinan 99,9% yang ada.

Rabu, 13 Januari 2016

BENCI X CINTA

Tiba-tiba keinget sama kalimat kebanggaan hasil renungan dulu, “membenci untuk mencintai dan mencintai untuk membenci”. Sebenarnya jika kalimat itu tak baca berulang-ulang jadi bingung juga arti sebenarnya dari susunan kalimat itu. Tapi yang jelas dulu kalimat itu tak artiin kayak gini, untuk frase kalimat pertama “membenci untuk mencintai” diartiin sebagai : membenci sesuatu itu karena terlalu mencintai, hal itu harus dibenci jika memang kita mencintai hal itu atau membenci sesuatu karena kita melakukannya demi orang yang kita cintai. Dan untuk frase kalimat kedua “mencintai untuk membenci” berarti : mencintai sesuatu meski nyatanya kita membenci hal itu karena itu  demi orang yang kita cintai. Cukup membingungkan? Iya, saya juga bingung sebenarnya. Tapi saya gak pernah lupa penyebab serta alasan munculnya kalimat itu.
Sedikit cerita tentang alasan kalimat itu dulu begitu saya banggakan.
Note : ini fakta tentang saya, jika anda keberatan maka bergumamlah sendiri dan jangan menyebar fitnah!
Cukup mengenal atau menyebut saya sebagai Devi, si sulung dari 5 bersaudara dimana anak ke-4 meninggal karena kecelakaan dalam kandungan (keguguran). Saya adalah kebanggan dari kedua orang tua yang pendidikannya hanya sampai bangku sekolah menengah. Saya hanya putri seorang pekerja koperasi dan ibu rumah tangga yang membantu suaminya dengan berjualan beberapa kebutuhan tetangga demi memenuhi kebutuhan dan kebahagiaan anak-anaknya. Sejak masa Sekolah Dasar (SD) sampe Sekolah Menengah Atas (SMA) mama selalu mempikan saya menjadi seorang perawat atau bidan, yang jelas mama sangat ingin saya bekerja dibidang medis atau kesehatan. Sebenarnya saya gak mau ngecewain mama, terlebih setiap anak pasti sangat mencintai kedua orang tuanya. Tapi saya terlalu egois untuk banyak hal, apalagi jika itu berkaitan langsung dengan diri saya sendiri. Masalahnya hanya saya yang akan benar-benar tahu bagaimana kehidupan saya berlalu dan bagaimana cara pandang saya terhadap sesuatu. Meskipun saya memiliki orang paling saya percayai, tapi tetap saja seutuhnya hanya saya yang tahu penuh tentang diri saya sendiri. Entah sejak kapan saya membenci pekerjaan medis, bagi saya mereka bekerja diatas penderitaan orang lain. Memang mereka membantu atau menolong bagi kehidupan atau keselamatan orang lain tapi mereka memungut bayaran atas itu bahkan melebihi dari jangkauan orang-orang yang membutuhkan. Memang tak ada yang gratis di dunia ini, hampir tak ada yang tidak menginginkan uang. Tapi ingat, ini adalah pendapat saya dan saya bebas untuk menyampaikan pendapat. Saya gak munafik karena saya juga memang menginginkan uang demi kebutuhan hidup, tapi tetap saja saya membenci profesi di bidang medis. Saya gak mau memperpanjang hal tersebut, cukup saya dan hanya saya yang tahu alasan saya. Mohon maaf sebesar-besarnya bagi anda para pembaca yang merasa tersinggung atau sangat tidak setuju dengan pendapat saya. Tolong baca Note saya lagi diatas. Jadi kesimpulannya saya menolak mengikuti keinginan mama yang begitu besar terhadap saya. Tentu bukan hal mudah untuk menolak mama, tapi saya terus berusaha meyakinkan mama bahwa saya tidak mau. “Mama mau biaya yang mama keluarin sia-sia karena utu ndak suka? Banyak yang sia-sia sekolahnya karena gak sesuai sama keinginan yang ngejalanin sekolanya.” Hal itu hampir terus berulang-ulang saya katakan pada mama, tapi tetap saja mama menyuruh saya untuk mencobanya. Saya anak yang takut untuk membantah kata orang tua apalagi tidak mengikuti hal-hal yang sudah saya yakini. Jadi untuk itu saya tetap mengikuti alur yang sebaiknya saya ikuti meski itu tidak saya mintai, saya selalu yakin bahwa Tuhan akan memberikan hal terbaik bagi setiap umatnya.
Jadi begitulah sedikit cerita tentang latar belakang kalimat kebanggaan saya “membenci untuk mencintai dan mencintai untuk membenci”. Menurut anda gak jelas? Inti dari cerita itu adalah saya terpaksa mengikuti atau mencintai hal yang benci demi orang yang saya cintai, yaitu mama. Dan membenci hal yang saya cintai demi orang yang saya cintai juga, yaitu dalam hal ini mama. Saya sangat mencintai apapun itu yang berkaitan dengan desain, meski belum mahir saya tetap sangat mencintainya. Dan saya juga amat sangat mencintai apapun hal yang berkaitan dengan komputer atai teknologi. Kelanjutan cerita diatas bahwa sebenarnya saya ingin mengambil jurusan kuliah yang berkaitan dengan IT atau Design, tapi ketika itu saya harus menanamkan rasa benci untuk dua hal tersebut karena itu saya lakukan demi orang yang saya cintai. Akhirnya saya mengikuti tes untuk masuk sekolah medis menjadi perawat atau farmasi. Tentu saya berusaha keras mengikuti tes tersebut meski saya membencinya, karena bagaimana pun untuk mengikuti tes itu orang tua saya juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Jadi sebagai si sulung yang menjadi kebanggaan orang tua dan tidak ingin mengecewakan dan membuat usaha orang tua menjadi sia-sia, saya berusaha keras untuk tes tersebut. Tapi takdir berkata lain, seperti yang saya katakan bahwa Tuhan akan memberikan hal terbaik bagi umatnya. Saya tidak lolos tes sekolah kesehatan tersebut, dua tes lain yang saya ikuti untuk melanjutkan sekolah selepas masa SMA adalah tes masuk sekolah ikatan dinas dan perguruan tinggi negeri. Ringkasnya, tes sekolah kesehatan karena untuk ahrapan mama, tes sekolah ikatan dinas karena untuk kebahagiaan bapak, tes perguruan tinggi karena saya gak punya pilihan lain dan saya merasa bisa untuk menjalani hal yang saya pilih ini. Dan pada akhirnya saya lolos masuk perguruan tinggi dan masuk 5 besar. Tentu itu hal yang membahagiakan sekaligus menyedihkan karena dua kebahagiaan orang tua saya tidak tercapai. Dalam benak mereka tentu terlintas bahwa saya tidak serius dengan semua tes, melainkan hanya fokus pada tes masuk perguruan tinggi. Mereka memang tidak mengatakannya, tapi tentu anda pun bahkan akan berpikir begitu. Percuma saja saya membela diri karena saya yakin itu sulit untuk dipercaya. Jadi beginilah saya akhirnya yang menjadi mahasiswi perguruan tinggi negeri yang kini akan mengakhiri semester 3 studi.
“Membenci untuk mencintai dan mencintai untuk membenci”, sekali lagi saya membaca kalimat itu. Beberapa menit yang lalu saya teringat dengan kalimat tersebut saat menunjukan rasa bhakti kepada Sang Pencipta. Saya merenungkan banyak hal yang belakangan ini terjadi, sehingga saya menarik kesimpulan bahwa kalimat kebanggaan say aitu memiliki arti lain. Terlalu mencintai sesuatu hingga membuat hal tersebut malah berbalik membenci saya dan saya membenci sesuatu hingga hal tersebut mencintai saya. Contoh nyata yang terjadi bahwa saya membenci seseorang yang sejak beberapa lama cukup dekat dengan saya dan lambat laun kemudian seseorang tersebut justru menjadi mencintai saya. Tentu hal  itu terlalu mengejutkan saya, awalanya saya memang berpendapat demikian tapi melihat kenyataan yang ada saya jadi terus menyangkalnya. Tapi setelah seuma terungkap saya menjadi tidak bisa menyangkanya. Kemudian terlalu banyak kejadian atau seseorang dalam hidup saya yang begitu terlalu saya cintai, tapi perasaan cinta saya akhirnya membuat mereka menjauh dan bisa dibilang malah justru membenci saya. Hal itu sangatlah menyakitkan tapi tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk menghadapi itu kecuali membiarkannya berlalu seperti yang diinginkan waktu. Saya bukannya bermaksud menghendaki hal yang demikian, tapi saya merasa bahwa itu akan lebih baik karena saya rasa itulah yang terbaik untuk mereka yang saya cintai. Seorang teman pernah berkata bahwa saya terlalu memaksakan diri. Saya memang mengakui hal tersebut tapi tidak bisa untuk mengubahnya. Mungkin saya terlalu mencintai diri saya sendiri hingga saya tidak ingin mengubah apapun pada diri saya.
Yang saya tulis memang tidak banyak bermanfaat tapi semoga anda para pembaca bisa memetik manfaat yang tidak banyak itu melalui tulisan ini. Hari ini adalah hari terakhir saya ujian semester dan saya menulis tulisan ini semalam sebelum belajar. Sebagai informasi tambahan bahwa saya bukan tipe orang yang malas untuk belajar, tapi saya adalah tipe orang yang hanya akan melakukan hal yang saya inginkan. Seperti yang saya sebutkan diatas bahwa saya egois dan terlalu mencintai diri saya sendiri. Jadi saya selalu berusaha menyenangkan diri saya sendiri apapun keadaannya dan meski itu saya lakukan dalam bentuk hal-hal kecil ataupun murahan.

It’s me and still me forever.