Tampilkan postingan dengan label dari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2016

Tak Semudah Saat Ia Datang


      Punya teman cowok yang over PD (percaya diri), siapa lagi kalau bukan Rendi. Emang sih postur badan oke, otak lumayan lah, asik, seru, walaupun kadang nge-krik sendiri. Tapi namanya manusia pasti ada saja kurangnya dan biarlah itu menjadi titik hitam yang tak perlu di ungkap secara gamblang. Rendi, yang mungkin banyak buat cewek mencoba untuk mengenal dia lebih jauh ternyata bisa juga kurang peka dengan sekitarnya. Tidak usah terlalu jauh memandang, lihat saja yang ada di sekitar. Senyum tulus tanpa rasa terpaksa yang senantiasa memperlihatkan wajah riang gembira meski di cela. Gadis imut yang selalu menampakkan wajah tak ada masalah, wajah yang selalu membiarkan senyum bahagia muncul secara alamiah seakan membuat orang yang memandangnya menilai bahwa ia adalah gadis periang yang di utus Tuhan untuk membagi kebahagian yang ia punya kepada semua orang yang ada disekitarnya. Tulus dan penyabar meski kadang ingin menentang tapi itulah Tita yang ku kenal, gadis tanpa masalah yang selalu ceria.
          “Aku gagah kan..”, pernyataan over  PD dari siapa lagi kalau bukan Rendi. Aku yang mendengar hanya tersenyum sinis ke arahnya seolah mengatakan bahwa aku amat tidak setuju. Tapi selepas dari itu secepat kilat aku bisa melihat seseorang yang ada di sudut keramaian memperhatikan Rendi dengan mata berbinar. Senyum tulus, itulah yang aku lihat dan aku tau alasannya.
          Cinta yang dipendam dan mungkin akan usang jika tak tertuang. Tapi bagaimana bisa terungkap jika pertanda adanya perasaan yang sama diantara dua insan belumlah menampak. Apa yang ada bisa saja tak terlihat, tapi mereka yang terlalu peduli akan selalu bisa melihat apa yang tak kasat menjadi amat jelas di depan mata.
          Gadis yang tulus, yang senantiasa membantu segala kesusahan yang dialami dan dihadapi Rendi. Gadis yang tak pernah menyerah memberi pertanda bahwa ia cinta, ia peduli, dan betapa ia ingin memiliki dan dimiliki oleh dia yang tak henti ada dalam penglihatannya. Rendi yang terlalu percaya diri  dan terlalu tidak peduli, masa bodoh dengan yang terjadi, asal ia tak rugi maka tak akan ada masalah baginya. Ketulusan yang diberi tak kunjung memberi arti hingga akhirnya kesakitan mulai merajai sisi gelap yang mulai hadir atas kesabaran yang terlalu meninggi dan tak membuahkan hasil.
          “Siapa ya yang mau jadi pacar aku? Bosen jadi jomblo”, nada merintih yang di buat-buat itu terlihat jelas dari mimik wajahnya. Rendi yang asal ketus mencoba untuk meminta pendapatku. Tapi aku lebih masa bodoh, dia lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Sekali lagi aku melirik ke sudut lain. Tentu saja di sana aku menemukan Tita yang sepertinya ingin benar-benar mencapai puncak dari keinginannya. Dan benar saja, Tita langsung membuka suara dengan mantapnya. “Aku mau kok Ren..”, senyum tulus terlihat dari sudut bibirnya dan spontan membuat semua yang ada di sekitarnya yang mendengar bersorakan meneriakinya. Rendi hanya menatap bingung dan acuh, sungguh jika aku menjadi Tita akan ku tampar saja laki-laki itu.
          “Ha? Kamu?? Tidak tidak”, kata-kata itu pastilah amat menyakitkan terdengar di telinga Tita. Tapi ia tetap saja tersenyum dan aku tahu dibalik senyum itu ada luka yang timbul akibat dari kata-kata Rendi tadi.
          “Sombong kamu Ren! Tita itu tulus jawabnya.. Kamu yang sopan dikit dong sama cewek! Belum pernah kena tampar ya?”, aku ketus saja serasa aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Tita. Biarlah dengan pendapat orang yang mungkin menganggap ku aneh. Aku hanya peduli dengan ketulusan apalagi jika itu terpendam dan disakiti begitu saja tanpa pernah bisa dicoba untuk dimengerti.
          Ketulusan yang bertahan hingga bentang waktu yang panjang, serasa tak ada rintangan terasa meski hujan badai telah dilanda. Aku yang tak tahu pasti tapi tetap percaya pada keyakinan bahwa cinta tak mudah pergi seperti semudah ia datang menghampiri. Dan beginilah adanya kini, Tita yang ku rasa semakin tersakiti oleh ketidak pedulian Rendi yang malah asik dengan kepentingannya sendiri dan terlebih lagi dengan sengaja menyakiti Tita di depan matanya.
          Wajah bangga berusaha jelas untuk digantungkan di atas wajahnya, “Pilih Bunga atau Intan ya? Susah emang kalau jadi cowok ganteng. Susah milihnya kalau sudah kayak begini.” “Resiko orang ganteng Ren..”, sahut salah satu teman ku yang bernama Rio. Yah, dia hampir sama saja dengan Rendi, tapi ia tidak selebih Rendi yang rasanya selalu ingin ku lempar dengan sepatu.
          “Minta pendapat saya Ren? Lihat disekitarmu yang lebih tulus sama kamu”, Rendi sadar siapa orang yang ku maksud dan ia hanya mencibir tanda tak peduli.
          Semakin lama Rendi semakin sibuk dengan dua gadis baru yang sedang ia dekati dan ingin ia pacari. Hari-hari Rendi selalu dipenuhi dengan kehadiran dua gadis itu, entah selalu hadir lewat cerita yang dikumandangkan Rendi, sampai peristiwa nyata yang tertangkap mata saat Rendi sedang bersama dengan kedua gadis itu dalam tempat dan waktu yang berbeda. Sungguh dekat terlihat dan membuat siapapun yang melihatnya akan berpikir bahwa mereka memiliki hubungan special. Seperti tak ada jarak diantara keduanya, terlebih saat Rendi sedang bersama Bunga. Terlihat begitu manis sampai-sampai tak ada satu pun yang ingin mengganggu percakapan yang sedang berjalan diantara keduanya.  Perasaan suka yang tergambar jelas dari setiap ucapan dan gerak gerik dalam kebersamaan mereka, menguatkan pernyataan jelas bahwa mereka lebih dari sekedar teman. Dan akhirnya semua tahu bahwa Rendi telah memilih Bunga dan itu berarti Rendi telah memiliki seseorang dan dimiliki oleh seseorang yang tak lain adalah Bunga. Gadis tinggi semampai dengan paras menawan yang membuat hati dan perasaan siapa pun yang melihatnya merasa damai dan tak pernah bosan untuk melihatnya lebih lama. Mungkin itulah yang dirasakan Rendi hingga akhirnya ia menjatuhkan pilihaannya kepada Bunga.  
          Kebahagiaan yang selalu menemani hari Rendi dan selalu berbanding terbalik dengan keseharian Tita. Rasa sakit yang merasuk hingga menembus hati kecil yang tadinya berdinding tebal yang terbuat dari kekuatan ketulusan yang tak pernah goyah meski kepedulian tak kunjung singgah mencicipi ketulusan yang harusnya diberi. Beginilah akhir yang diberi, tanpa perlawanan Tita hanya mengalah. Mengalah dengan perasaannya bahwa ia tak bisa memenangkan apa yang selalu ingin ia menangkan. Mengalah untuk kesekian kalinya atas cobaan yang silih berganti menggoyahkan kekuatan cinta yang penuh ketulusan. Mengalah untuk bisa menang dan bangkit dari keterpurukan yang mungkin akan menemaninya dalam beberapa rentang waktu penuh keperihan. Aku percaya Tita adalah gadis kuat bahkan lebih kuat dari yang ku lihat, pastinya ia akan sanggup melalui hari-hari menuju pengobatan diri untuk segera meninggalkan perasaan lama dan merelakan apa yang telah terjadi dan menjadikan itu sebagai catatan pengalaman di lembar hidup yang telah lewat.
Cinta yang lahir dari ketulusan akan berbuah manis pada akhirnya. Tapi buah yang manis itu tak harus hadir dari berkat kumbang yang diinginkan menyerbuki bunga cinta yang telah bermekaran. Ada takdir lain yang diberi Tuhan sebagai karunia terindah yang akan terasa jauh lebih manis dan lebih indah sebagai hadiah ketulusan yang terus di jaga dan dibiarkan tumbuh dengan inginnya. Cinta yang tak akan mudah menghilang bahkan memudar seperti semudah ia hadir dikala taman jiwa yang sepi dan penuh kerinduan akan rasa kepedulian dari jiwa lain. Cinta yang bersemi hingga berbuah manis meski tanpa benih unggul yang diinginkan, pasti ada saatnya nanti buah yang jatuh akan lebih terasa manis dari yang diharapkan.
           Begitulah akhirnya Tita yang terus bangkit dan akhirnya menemukan cahaya baru dari ketulusan yang selama ini kasat mata olehnya. Bayang dari masa lalu dimana cinta itu pernah tumbuh dan setulus kasih yang selalu ia bayangkan sekejap hadir dalam waktu yang tak terduga. Kembalinya sang bintang dari masa lalu yang muncul sebagai mentari di kesendirian hati yang sedang terlukai. Wawan sang pahlawan bisa jadi menjadi labuhan ketulusan yang selama ini terpendam. Biarlah ia yang menyiakan mendapat ganjaran. Kehidupan di depan tak ada yang tertebak dan nyatanya, cinta terbalaskan oleh bintang lain yang lebih benderang dan nyata dihadapan. Cinta memang tak akan mudah menghilang seperti semudah saat ia datang.


Author : Zee

Senin, 09 November 2015

JUJUR

Bercermin sebenarnya adalah cara ku untuk mengetahui sejauh apa aku bisa membohongi diri ku sendiri. Aku selalu menjunjung tinggi kejujuran, selain karena membenci kebohongan aku juga ingin menjalani keyakinan yang selalu ku percayai. Tentunya aku tidak selalu jujur sejauh hidup ku saat ini, bagi ku tidak ada orang di dunia apalagi di akhir jaman seperti ini yang tidak pernah melakukan kebohongan. Tapi aku tetap berbangga pada diri ku sendiri karena aku selalu berusaha meminimalisir kebohongan dalam hidup. Aku selalu memegang teguh keyakinan bahwa apapun yang sudah, sedang, dan akan terjadi adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan. “Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini”. Begitulah yang sering kita dengar sejauh kita hidup, tapi bagi ku sempurna di dunia adalah ketika yang baik dan buruk berjalan dengan seimbang tanpa ada kelebihan atau kekurangan di salah satunya. Aku sadar bahwa yang ku katakan selalu sulit dimengerti oleh orang lain. Tapi untuk saat ini aku tidak ingin membahas hal tersebut, jujur. Sebenarnya maksud ku mengatakan kalimat itu (“Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini”) bertujuan bahwa tak ada manusia yang benar-benar memiliki sifat kebajikan dan sepanjang hidupnya tidak pernah mengeluh, termasuk dengan Tuhan. Terkadang hal itu membuat ku berpikir, kapan terakhir kalinya aku mengeluh kepada orang lain selain Tuhan, jujur. 
Mungkin beberapa dari kalian atau bahkan semua dari kalian menganggap hal yang ku bicarakan adalah bualan belaka. Sejujurnya aku tidak peduli dengan apapun yang orang lain katakan, karena aku tipe orang yang sulit untuk menerima kritik ataupun saran karena sudah cukup lama aku selalu mengambil keputusan sendiri. Sudah cukup lama aku merasa hidup sendiri, meski berada disekitar orang yang tidak sedikit bahkan banyak dari mereka adalah orang-orang yang ku sayangi, tapi aku selalu merasa kesepian. Bisa dibilang aku terlalu sombong, angkuh, dan tidak baik. Aku merasa punya standar atau kualitas tinggi untuk setiap status hubungan dalam kehidupan ini, salah satunya adalah teman. Mungkin penilaian ku ini juga sedikit dipengaruhi oleh seseorang yang belum lama ini ku kenal. Teman bagi ku adalah dia yang tahu siapa aku dan siapa dirinya, bukan hanya mengetahui siapa aku tanpa sadar siapa dirinya. Aku selalu ingat terkahir kali seseorang yang belum lama ku kenal mengatakan bahwa ucapan ku sulit dimengerti dan aku mengakui hal tersebut. Sebenarnya aku malas mengatakan hal-hal semacam ini, tapi ada suatu alasan yang membuat ku akhirnya melakukan ini.
Jujur, yang selalu ku agungkan dan tidak pernah ku lupakan. Dan terkadang mengingat kalimat itu saja, aku menjadi teringat dengan seseorang yang sebut saja dia adalah Zen. Bagi ku Zen adalah teman, walaupun aku tau mungkin hingga detik ini aku belum bisa mencapai level teman bagi dirinya. Meski begitu, aku sangat membanggakannya sebagi teman. Zen sosok yang baik, cerdas, peduli, dan sosok yang teladan bagi ku. Ya, itu murni penilaian ku sendiri yang akhirnya ku simpulkan walaupun belum lama mengenal Zen atau lebih tepatnya belum lama bersama dalam lingkungan yang sama dengan Zen. Satu hal yang membuat ku merasa berarti baginya (TOLONG JANGAN DIARTIIN KE HAL YANG BERKAITAN DENGAN CINTA), Zen pernah mengatakan “Aku gak pernah bohongin kamu sekalipun itu becanda”. Meski kalimat itu hanya berlaku nyata hingga dia mengatakan hal tersebut, tapi aku percaya bahwa kalimat itu berlaku hingga sekarang. Jujur, aku selalu tertegun setiap kali mengingat kalimat itu. Meski tak ada bukti yang nyata dan meyakinkan untuk menguji hal tersebut, tapi aku merasa bahwa itu sudah terbukti. Dalam beberapa momen ketika kami berada dalam kelompok yang lebih kecil, aku tahu dia sudah berbohong dengan seseorang. Selain itu yang selalu dia katakan memang benar adanya, itu juga menjadi alasan ku untuk mempercayai apapun yangdia katakan. Mungkin bukan hanya aku, tapi dia selalu jujur dengan orang-orang yang membuat dia nyaman (rekan baik).
Rasanya aku mulai melenceng dari tema awal. Jujur, kata yang mudah, sering didengar, tapi belum tentu mudah untuk dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari pastinya ada saat dimana jujur itu bisa mendatangkan suatu hal yang buruk. Tapi selain dari alasan itu, sejatinya jujur adalah hal mutlak yang harusnya sudah kita tanamkan dalam jiwa masing-masing. Aku bukanlah lambang yang cocok untuk kejujuran itu, karena aku sendiri pun selalu berbohong pada diri ku sendiri. Tapi percayalah, bahwa aku jujur 90% dan jika aku tak ingin berbohong maka aku tidak akan mengatakan apapun. Mungkin dan pastinya itu juga hal yang buruk, karena diam dan seolah berpura-pura tidak mengetahui yang terjadi merupakan hal yang buruk.
Jujur, hal yang selalu ingin ku katakan kepada orang banyak bahwa aku bahagia dan bangga bersama mereka yang selalu menilai ku dengan cara yang berbeda atau dapat ku katakan mereka adalah sosok-sosok yang selalu memberikan ku banyak pelajaran, kesadaran, dan nilai hidup yang lebih berarti. Meski itu tidak terungkap langsung, tapi aku tahu bahwa aku dapat itu dari mereka.
Jujur, jika aku bisa mengatakan bahwa aku ingin meminta sesuatu dari mereka maka hanya aku ingin mengatakan bahwa aku hanya ingin selalu bersama kalian.
Kebahagaiaan tecipta dari mulut, perasaan, dan pikiran mu sendiri. Jika kesemuanya menolak untuk menyebut kebahagiaan maka hal itu tidak akan terjadi.

>>Zee