Tampilkan postingan dengan label #SweetJune #maRen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #SweetJune #maRen. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Maret 2017

"Aku belum move on (dari mu)"

Aku belum move on,
masih hanyut dalam kenangan bersama mu.Sering melamun membayangkan kenangan yang telah lewat dan menatap miris ke dalam jiwa.

Aku belum move on,
dipikiran ku masihlah dikuasai oleh mu. Tak banyak yang bisa ku lakukan ketika diri mu menghantui ku.

Aku belum move on, 
masih berharap kamu kembali menoleh ke arah ku dan hanya menatap ku. Tak mengizinkan siapapun lebih dekat dan peduli pada ku selain dirimu.

Aku belum move on,
meski mata ini bisa menahan tangis tapi hati ku tak bisa menahan sepi. Tanpa percakapan dan kabar hangat dari mu setiap hari, tanpa pertikaian yang sering kali mengobati rindu. Bahagia yang hanya dimengerti oleh ku dan perasaan mu yang ku dapat bagaikan intan permata paling berharga.

Aku belum move on,
aku masih tak sanggup untuk melihat mu karena ketika itu terjadi maka hanya tangis yang akan ku lewati kemudian. Mengetahui kabar angin mu, mengenang segala kenangan yang berhubungan dengan mu, mengingat bahwa kamu menyayangi ku dengan tulus, mengingat penyesalan serta kesalahan yang tak akan bisa ku ungkap pada mu adalah rintangan yang  sering kali melemahkan langkah ku.

Aku belum move on.

Senin, 21 November 2016

“Bolehkah aku berbisik rindu pada angin yang mungkin melalui mu?”

Ku pandangi ruang obrolan yang sudah berulangkali ku kosongkan agar tak ada kesempatan bagi ku untuk berulang membaca isinya. Keadaan ku yang tak sekuat sebelumnya untuk tetap menunggu mu membuat ku putus asa untuk tetap menanti hadirnya sua dari mu. Ku intip sekali lagi... bahkan isyarat kau telah membacanya pun tak ada. Apa sebaiknya aku sudahi dan menuju baringan yang menjadi tempat persembunyian ku dari rindu pada mu? Rasa punggung ku kian nyeri, tapi ku tahan untuk tetap menulis ini.

Laki-laki yang saat ini selalu membuat ku ingin menutup mata, menghapus bayang masa lalu yang terus menghantui, dan meninggalkan sesal seumur hidup yang tak kan mampu lagi tuk ku tebus. Pagi ini ku temukan detik waktu yang membiarkan mata kita bertemu. Aku ingin mencurinya lagi, meski tanpa kata yang melibatkan kita dalam sebuah percakapan. Pernah sebelumnya aku merasakan arti tatapan mu yang lembut dan senyaman dulu. Bahagia tentu dan eurofia itu tak dapat ku pungkiri. Iya, berhari-hari aku merasakan eurofia atas tatapan mu itu. Mungkin saja aku salah memaknainya, tapi hati ku terlalu bahagia untuk bisa menolak apa yang mungkin diperkirakan oleh otak ku. Jiwa mu yang ku rasa ingin berada pada hadir ku. Aku tak menolak, hanya saja aku seakan tak bisa membiarkan mu ada atau menarik mu ada dalam ruang itu. Aku penuh bimbang jika itu berkaitan dengan mu. Kadang aku tak hentinya menggerutu kenapa tak hentinya bayang mu muncul dalam benak ku dan ntah apa itu (antara hati atau pikiran ku) yang berseru untuk mengusir mu. Terkadang aku membiarkan nostalgia pada masa lalu itu berjalan dan kemudian aku sadar dengan luka yang telah ku buat sendiri dan rasa takut ku yang begitu besar untuk mengakibatkan kerusakan lebih fatal yang berhubugan dengan mu. “Bunuh aku.” Mungkin itu singkat kata dan deskripsi tegas atas apa yang ku rasa kala itu. “Oh Dewa, kapan pula dia kan membalas jawab ku..” Aku masih menunggu pemberitahuan itu datang dari mu.

Lama angan ku berputar untuk teguh tak menegur mu, ntah itu sapa maya maupun nyata. Terkadang terkuras pula perasaan ini atas apa yang bisa dan tak bisa ku lakukan untuk dirimu. Rumit, adalah kata yang bisa menjelaskan ku dalam satu detik. “Tuhan, aku berharap dia selalu dalam perlindungan mu dan merasa bahagia atas dunia yang melingkupinya.”

Raga ku tak bisa menunggu lebih lama, jika tak bisa maka tak ada lagi yang bisa ku kata. Aku hanya mencoba apa yang selama beberapa waktu ini ku tahan. Mungkin jelas salah, tapi perasaan ku berkata masih ada waktu yang mengizinkan ku bersama mu. Meski jelas ku pikir itu mustahil, tapi harap itu selalu berteman dengan air mata ku. Dosa ku tentu berat dan kenangan itu akan selalu ku jaga meski itu tak pantas lagi untuk disandingkan bersama mu. Tak ada kata yang baik dan lebih baik yang bisa ku ucapkan. Dua hal yang tak hentinya hati dan bibir ku berbisik, hanya maaf dan terimakasih.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Tak Terjelaskan


            Rasa ini berbuat semaunya dan aku adalah manusia yang siap tersiksa karena ulahnya. Bayangan masa lalu itu ku biarkan melekat dan mengikuti ku hampir sepanjang waktu. Ada rasa bahagia yang diikuti sayatan pedang disetiap detik bayangan itu singgah. Aku pasrah dengan keberadaannya yang diikuti oleh ingin ku tuk mengenang. Tak ada yang bisa ku jelaskan dan hanya air mata ini yang selalu ku biarkan mengalir seadanya. Dari dekapan waktu yang tak diketahui siapapun serta ruang yang mungkin tak terpikirkan, aku berusaha untuk mengeluarkan segala rasa yang hanya bisa terwujud dalam tangis. Terkadang isak ku sulit tuk terhenti hingga mata sembab pun tak bisa ku hindari. Mashocist yang ku derita nampaknya memang benar adanya. Rasa ingin berlari namun terjatuh berkali-kali. Seakan tak tahu arti dari luka dan mengerti arti untuk diam dan berhenti. Angin yang berhembus menyibakkan rambut ku yang selalu ku biarkan terurai. Hanya rambut ini yang selalu ku andalkan untuk menutupi rasa malu pada rupa ku yang tak pantas. Aku menyukai mata dan tatapan yang melekat padanya, tapi terkadang rasa benci begitu merajai ku atas mata dan tatapan ku sendiri. Ini kian sulit ketika aku berusaha memikirkannya, mencari solusi, ataupun menjalaninya. Terlalu rumit tuk ku pahami dan terasa berat tuk ku hadapi sendiri. Tapi aku selalu berusaha berada pada pijakan setiap orang yang ku kenal, bahkan berpijak pada tempat yang sama dengan mereka yang hanya dalam terkaan. “Setiap orang mempunyai bebannya sendiri, dan mereka punya cara masing-masing untuk menghadapinya.” Lemah yang terkadang ku banggakan dan kemudian ku tujukan untuk mendapatkan perhatian. “Hina.” Entah siapa yang akan tahu bahwa aku begitu membenci diriku sendiri yang begitu hina. Bahkan terlalu banyak masa lalu yang ingin ku benahi tapi tak ada cara bagi ku untuk menebusnya karena kehinaan yang telah ku lakukan dan hina itu seakan tak mudah dilepaskan.

            Ya, aku merindukannya. Desah nafasnya tak bisa ku ingat lagi. Tapi keberadaannya disekitar ku masih terasa dan begitu ingin tetap ku rasa. Berada dalam pandangannya dan merasakan sentuhannya, mungkin itu nafsu tapi tak ada gairah atau getaran berat yang melanda jantung ku waktu itu. Aku benar-benar meraskan kenyamanan itu karena kelembutannya yang tulus ku rasa. Tak ada yang tahu dan sepantasnya begitu. Dia yang tak ingin mengumbar, dan serupa dengan ku yang tak ingin dia malu atau reputasinya yang terjatuh hanya karena ada nama ku dalam hidupnya. Penyesalan yang tak ada akhir diikuti banyak kata tak pasti yang tak terjelaskan. Aku ingin berteriak hingga suara ini tak terdengar. Isak ku kini kian berat, serasa air mata ku telah mengering dan begitu sulit untuk meneteskannya lagi. Riak ku yang berbicara sendiri. “Kamu nyiksa dirimu sendiri.” Tanpa perlu bertanya, aku seakan tahu apa yang akan ia katakan dan aku tahu apa yang dirasakannya. Sungguh, aku juga ingin keberadaan ku benar-benar lenyap dalam hidup mu. Untuk saat ini aku berusaha untuk tak mengambil serta berhenti mengambil jalan yang sama dengan mu. Adapun jalan yang tak bisa ku tinggalkan dimana kamu juga ada disana, aku pun tak punya kuasa atas hal tersebut. Ketahuilah bahwa pernah aku berpikir mimpi mu yang bulat itu pernah menjadi mimpi ku yang berukuran setengah lebih. Rasanya mimpi itu kian membesar seiring keberadaan mu. Tapi kali ini ku rasa semua sudah menguap dalam wadah yang tak terjelaskan. Pernah ku pikir untuk memadatkannya dan mencoba menyamakannya dengan milik mu. Tapi akhir-akhir ini aku merasa tak bisa, aku tak bisa melihat diri ku berada pada jalan yang sama dimana kamu ada. Aku tahu kamu begitu lelah, begitu keras berjuang untuk segala hal yang kamu inginkan, begitu ingin menikmati hal yang kamu cintai, begitu mencintai apa yang bagi mu adalah benar dan baik. Betapa kejinya aku yang sudah mengetahui semua itu namun tetap berada pada cara yang dapat menyakiti mu. Sulit untuk bisa melepaskan segalanya dan sering ingin ku untuk kembali dituntun dan dibarengi oleh hadir mu. Terimakasih, semua tentang mu kali ini memberi ku sinyal bahwa aku benar-benar bukanlah hal yang bisa dan pantas untuk berada dalam cerita mu. Keras ku berharap jalan yang kita lalui bersama ini akan segera berakhir, meski terkadang aku ingin berpikir bahwa kamu tak sebegitu membenci ku. Tapi mengingat apa yang telah ku lakukan membuatku menampar diri untuk sadar atas apa yang terjadi. Rasanya banyak kata yang ingin ku katakan, tapi ya begitulah.. Kata-kata itu tak bisa terjelaskan.

Selagi ada yang bisa ku lakukan dan ku pikir itu adalah baik untuk mu, maka akan selalu ku usahakan. Jika yang ku lakukan salah, ku harap hal baik tetap berlaku untuk mu. Izinkan aku untuk masih menyebut nama mu dalam tangis dan kemalangan ku. Jika waktunya tapat dan aku sudah pantas, izinkan aku mengatakan dua kata untuk mu. “Maaf” dan “Terimakasih”.

Rabu, 28 September 2016

"Tolong.. Bicaralah.."

Jika waktu itu adalah hal terbaik yang kamu beri, aku berharap.. aku tak sehina itu di mata mu sehingga kamu relakan waktu mu yang berharga untuk gadis yang tak punya apa-apa.

Kata maaf yang tak hentinya menyeru dalam benak, serta kata terimakasih yang sulit terucap. Dua kata yang penting, tapi tak tahu mana yang harus benar-benar terucap. Pikiran ini hanya mendoktrin kata maaf, tapi hati ini menangis untuk mengucapkan terimakasih yang tulus.

Kamu.. nama mu yang tak mudah untuk diucapkan sejak itu dan hingga kini. Perasaan ku yang sulit terlepas dari keberadaan mu yang diilusikan waktu. Bayang yang lewat, waktu yang berlalu, perasan yang tak menentu, ku harap itu memang bukan palsu. Meski ingin mendapatkan kata itu dari mu, tapi aku tahu betapa melelahkannya dirimu menanggapi ku.

Aku ingin berseru dan menangis di depan mu agar kamu tahu bahwa aku begitu sulit. Tapi, selayaknya kamu yang tak tahu keberadaan ku setelah itu, begitupun juga aku yang tak tahu lagi tentang mu setelah itu. Sempat ku berpikir untuk kembali seperti dulu. Tapi aku takut, terlalu takut untuk memulai, terlalu takut bahwa itu salah, terlalu takut bahwa kamu tak menginginkannya, terlalu takut kamu telah membenci ku, terlalu takut membayangkan bahwa kamu tak ingin dunia mu diisi oleh ku, terlalu takut akan semakin banyak penyesalan yang ada. Aku terlalu takut, terlalu takut untuk mengatakan semuanya. Berharap kamu tahu, berharap kamu memberiku jawaban atas pertanyaan yang tak bisa ku ungkap. Rasanya begitu dekat tapi terhalang ilusi. Ntah ilusi apa yang menenggelamkan ruang yang seharusnya ada.

... bisakah aku menjadikan mu tempat yang nyaman lagi untuk ku?
.. masih ingatkah kau berjanji untuk tak menginggalkan ku? Aku tak tahu malu, setelah apa yang ku lakukan aku masih berharap janji mu. Aku tak merendahkan mu dan selalu yakin bahwa keberadaan mu adalah benar seperti yang ku pikir dan semua itu adalah hal baik tentang mu.
.. bicaralah pada ku.
Tolong, hancurkan kelam yang ada pada ku.
Ku mohon..
Jangan tinggalkan aku sendiri..
Meski kecewa mu tak terbayang oleh ku, tapi ku mohon..
Jangan tinggalkan aku sendiri dan membenci ku, seperti janji mu..

Bicaralah..

Senin, 19 September 2016

"Terimakasih"

            “Aku cuma bisa dapat 8”
            Ren mengawasi ku dari jauh, “itu sudah lebih dari cukup”
           Di tepi pantai yang selalu kami kunjungi, merasakan hembusan angin dan menikmati desiran ombak adalah kebiasaan kami. Namun cukup berbeda untuk kali ini. Kami mengumpulkan kerang yang memiliki corak warna biru dan meninggalkan jejak jantung bila dihempaskan ke pasir. Apa itu hal yang aneh? Mungkin tidak untuk kami.
            “Kamu gak kepanasan?”, Ren menghampiri ku dan membentuk bayangan yang menjatuhi ku.
            “Mm, lumayan”
            Untuk beberapa saat aku merasa kehilangan massa badan ku. Tanpa bisa memikirkan apa yang terjadi, aku terhuyung di atas pasir pantai yang terpapar sinar terik matahari.
            Ren sedikit lambat menyadari keadaan ku hingga aku pun terjatuh pingsan. Dengan sigap setelah mendapati kesadarannya, Ren pun menggendongku dan membawa ku tempat yang sejuk dibawah pohon.
“Seharusnya kamu gak maksain diri kalo emang gak kuat”
Dari sisa kesadaran yang ada aku dapat merasakan desah nafas Ren yang begitu berat setelah menggendongku. Dalam hati aku hanya bisa berbisik maaf untuk Ren dan semoga dia akan baik-baik saja. Tanpa memikirkan keadaan ku kala itu, aku lebih memikirkan keadaan Ren setelah menggendong ku. Bukan maksud ku untuk menilai Ren sebagai laki-laki yang lemah hanya karena menggendong ku. Tapi, keadaan Ren saaat itu tidak memungkinkan dia untuk bekerja berat, seperti menggendongku misalnya.
Dalam keadaan terbaring aku berusaha untuk mengatur nafas ku. Aku ingin memastikan keadaan Ren dan tak ingin membuatnya khawatir. Saat aku berusaha untuk mengembalikan keadaan ku, aku merasakan sentuhan Ren diseluruh wajah ku. Ren mengusapi seluruh wajah ku yang berkeringat dan menyingkirkan helaian rambut ku yang lengket. Aku ingin melihat tatapan Ren, tapi rasanya aku sendiri belum bisa membuka mata ku. Tangan Ren membenahi baju ku yang berantakan karena terjatuh tadi. Itu kali pertama aku merasakan sentuhan orang lain selain keluarga ku, yang begitu lembut merawat ku. Aku benar-benar merasa nyaman dan tidak keberatan jika itu adalah Ren.
Berbaring diatas pangkuan Ren, terlihat seperti aku yang manja pada laki-laki yang harusnya bisa ku manjakan. Aku begitu lemah dan bodoh untuk bersikap yang seharusnya pada laki-laki. Tapi lebih dari itu aku merasakan tanggung jawab Ren atas diri ku, yang ingin menjaga ku dan menyangi ku seperti yang ia bisa. Apalagi yang lebih baik dari itu ketika yang dibicarakan adalah tentang keberadaan laki-laki dan perempuan di dunia fana ini?
Ren, seharusnya aku berterimakasih untuk itu kan?
Kesejukan senja mulai menghampiri dan jingga pun mulai bermunculan dari persembunyiaannya. Hangat yang sejuk, indah dan ingin dikenang. Mungkin itulah yang aku rasakan kala itu ketika aku sudah mendapatkan kendali atas diri ku sendiri.
“Gak apa-apa cuma 8?”, aku dan Ren duduk bersebelahan menatap langit jingga di atas berugak beratap ilalang yang ada di tepi pantai.
“Iya, malah seharusnya kamu gak perlu ngelakuin itu.”
Ren menatap kudengan tatapan yang tak bisa ku definisikan. Tatapan Ren kala itu begitu berbeda dari yang biasanya ia tunjukkan untuk ku. Hati ku tiba-tiba terasa membeku, seakan ditahan benda berat dan dada ku menjadi begitu sesak.
Ren berdiri dihadapan ku ketika aku mulai berdiri, “Kita pulang.”
“Mm”
Tanpa sadar aku merasakan suhu badan Ren, merasakan dekapannya dan mendengarkan detak jantungnya. Mata ku terpejam hanyut dalam hangatnya pelukan Ren. Tak ada yang bisa ku pikirkan ataupun ingin ku lakukan. Dalam pelukan Ren aku terdiam, menikmati aroma tubuh yang sudah membuat ku terbiasa, mendengarkan irama detak jantung yang tak pernah ku dengar sebelumnya, merasakan kesejukan alam yang menyelinap diantara pelukan Ren yang hangat, merasakan tatapan langit yang tajam atas keberadaan kami dibawah kolongnya. Aku bahagia.. aku bahagia.. aku bahagia... Aku bersyukur atas segala hal yang telah membiarkan ku merasakan ini, bersyukur atas keberuntungan yang diberikan kepada ku, bersyukur atas kehadiran Ren dalam hidup ku, bersyukur menjadi aku yang seperti ini.

Ren, seharusnya aku bisa mengucapkan terimakasih secara langsung untuk mu dengan benar kan?

Kamis, 15 September 2016

Kita Berdua


Hanya kita, yang tahu arti tatapan itu
Hanya kita, yang tahu makna lambaian tangan itu
Hanya kita, yang tahu keberadaan cerita itu
Hanya kita..

Hanya kita berdua.

Jumat, 05 Agustus 2016

Freeze Time


“.. I got all I need when I got you and I, I look around me and see a sweet life, I’m stuck in the dark but you’re my flashlight, You getting me getting me through the night..”
“Hai, Vi!” Ren membuyarkan lagu ku.
“Oh, ayolah Ren.. Haruskah kamu selalu hadir disaat suara indah ku memenuhi dunia?” Aku mencabut kedua earphone dari telinga ku dan meletakkannya di meja.
Ren tersenyum geli dan menghampiri ku yang merajuk di ranjang, “Ohisashiburi ne..”
What?!”, aku belum begitu menguasai bahasa Jepang dan tentu saja itu berlaku sebaliknya bagi Ren.
Ren adalah segalanya bagi ku. Dia adalah teman, sahabat, musuh, saudara, orang asing, guru, orang tua, bahkan pacar, dan selingkuhan. Aneh kan? Begitulah kenyataan yang ku rasakan kapan pun aku bersama atau pun terpisah dengan Ren. Waktu yang kami lalui bersama tak bisa dikatakan sedikit maupun banyak, tapi kami merasa mengenal satu sama lain lebih baik dari mereka yang ada disekitar kami. Kepercayaan yang menjadi dasar hubungan kami dan pengkhianatan adalah larangan yang tak terdoktrin dan tak akan ada dalam perjalanan kami. Bersama melewati waktu yang berjalan, menapaki jejak pada bumi, dan sesekali menatap langit penuh kagum. Bukan hal mudah untuk kami terus bersama, tapi tak sulit juga bagi kami untuk saling berbagi. Dimanapun, kapanpun, dan apapun, selalu ada yang akan menjadi bagian dari kami.
Ren menatap langit-langit kamar ku, “udah lama kita gak natap bintang bareng.”
Sesaat aku melirik mata Ren dan kemudian ikut menatap langi-langit kamar ku yang dilapisi cat warna biru pucat.
“Mm, udah lama..” aku berbaring tanpa mengalihkan pandangan ku dan Ren pun melakukan hal yang sama.
“Bukannya bulan depan ada dark sky?”, tanya ku kegirangan setelah tersadar dengan hal yang ku lupakan.
Setelah menyadari sikap ku yang kegirangan seolah teringat akan hal yang harusnya tak ku lupakan, Ren kemudian menatap ku dengan tajam.
“Kamu melupakannya?”
Aku terdiam sejenak seolah tatapan Ren itu mengikat ku sejak pertama kali dia mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar ku.
“Hehe.. aku gak lupa kok, buktinya itu tadi aku sebut”
Ren menatap langit-langit lagi, “kamu gak berubah.”
Aku tak mengalihkan pandangan ku dari Ren. Perasaan yang ku miliki untuk Ren tak pernah bisa ku mengerti. Terkadang aku mengartikannya sebagai cinta, tapi tak jarang pula itu berarti kejahatan. Diawal pertemuan ku dengan Ren tujuan ku hanyalah untuk mencari hal istimewa darinya yang ku pikir akan berguna jika aku bisa mengenalnya lebih jauh. Dan sejak saat itu terlalu banyak hal yang mulai ku ketahui tentang Ren, hingga sekarang kami pun menjadi sedekat ini. Tak sedikit yang mengatakan bahwa kami bertemu untuk ditakdirkan bersama dan hati ku pun tak menolak hal itu. Tapi, kami berdua sama-sama tahu bahwa ada tembok besar yang menghalangi kami dan itu terlalu tinggi untuk bisa kami panjati untuk kemudian berdiri bersama dipuncaknya. Kami pun sama-sama tak ingin membahas apalagi menyinggung keberadaan tembok itu. Selama kami masih memiliki waktu bersama, kami ingin menikmatinya.
“Ren..”
Ren mengalihkan pandangannya pada ku.
“Apa Doraemon itu bisa diciptain di dunia nyata?” aku menatap langit-langit dengan hampa.
Ren melakukan hal yang sama, “Bisa jadi, tunggu abad ke-22”
“Apa kita bisa hidup sampai Doraemon itu ada?”
“Kita bisa hidup sebagai orang yang berbeda disaat itu tiba.”
Reinkarnasi. Itulah hal yang disinggung Ren dan aku tahu itu dengan baik. Kami belum pernah membahas hal itu dengan dalam, tapi aku merasa tahu itu cukup dalam. Terlahir kembali di dunia sebagai manusia adalah hal yang patut disyukuri oleh umat manusia, karena hasil perbuatan pada kehidupan sebelumnya tak selalu menjadikan manusia terlahir kembali sebagai manusia. Apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Begitulah sederhananya hukum karma yang berlaku di dunia. Aku dan Ren tak terlahir dari akar yang sama dan kami hidup dibesarkan dengan cara yang berbeda. Meski itu adalah hal yang wajar, tapi ketika itu menjadi topik pembicaraan kami maka itu akan menjadi kehancuran dari kebersamaan kami.
***
Well, tempat ini gak buruk.. Kamu emang gak bisa diragukan”, aku memuji Ren atas pilihannya untuk tempat kami berkemah menikmati fenomena dark sky yang terjadi malam ini.
“Api unggunnya udah siap. Kamu udah pake kaos kaki mu?” Ren cukup tahu banyak tentang ku, tak terkecuali dengan telapak kaki yang begitu sensitif dengan udara dingin.
Aku mengangkat sebelah kaki ku untuk menunjukkan kaki ku yang sudah terbalut kaos kaki blaster black-white.
Selagi Ren menyiapkan matras dan sebagainya di dalam tenda, aku berputar memandangi langit yang dipenuhi jutaan bintang yang berkilau. Aku mencoba mengingat kembali kapan kali pertama aku begitu mencintai langit dan segala hal tentangnya. Tapi itu terasa mustahil karena untuk beberapa alasan, aku mulai melupakan banyak hal yang seharusnya tak mudah untuk dilupakan.
“Tempat ini cukup jauh dari kota dan sepertinya disini gak terlalu ada polusi cahaya yang bisa mengurangi view dark sky.”
Ren memberikan ku secangkir teh hangat dan tanpa berpikir akupun langsung meminumnya.
Aku sadar teh yang diberikan Ren adalah ocha (teh hijau Jepang) dan aku cukup membencinya karena rasanya yang pahit, “Ocha?! Haruskah??”
Ren tersenyum tipis tanpa memandang ku, “Jangan banyak protes.”
Tanpa berkata lebih lagi, aku memilih berusaha untuk menikmati ocha sembari menatap bintang sebagai pemanisnya.
Sejak aku sadar aku mencintai langit dan segala hal tentangnya, aku begitu menginginkan saat-saat seperti ini. Menatap jutaan bintang sambil berbaring diatas hamparan rumput luas bersama seseorang yang begitu mengerti dan memahami siapa aku. Dan sekarang aku bersama Ren, seseorang yang tak mudah untuk ku jelaskan tapi begitu berarti. Aku sangat bersyukur atas segala waktu dan banyak hal tentang kami yang dituliskan Tuhan dalam hidup kami. Jika aku diberikan satu permintaan dalam hidup ku, aku hanya ingin selalu bersama dengan orang-orang yang ku sayang.
“Ren, kimi ga suki.”
Oremo daisuki dayo.”

Dibawah langit yang teramat indah ini, yang lukisannya tak selalu bisa ditangkap mata, sela jemari kami saling terisi satu sama lain. Sejauh ini tak ada yang berjalan dengan mulus ataupun berjalan dengan jauh dari prediksi. Aku dan Ren merasa mengendalikan waktu dengan cukup baik dan aku berharap kami bisa membekukan waktu indah kebersamaan kami ini selama yang kami inginkan. Jika keberuntungan ini masih milik kami, maka tak ada harapan lain selain kebersamaan kami.

Kamis, 04 Agustus 2016

空の下

“Ren, apa ini harus terjadi sama kita?”

Ren menggenggam tangan ku lebih erat, “Tak ada yang bisa kita sesali jika akhirnya begini dan dari awal ini sudah ada diprediksi kita kan? Perasaan yang kita miliki begitu membahagiakan dan kita sudah berjanji untuk menikmatinya hingga akhir kan?”

Aku tenggelam dalam dekapan Ren dan menikmati irama denyut jantungnya yang indah. Tak ada lagi yang ingin aku katakan atas apa yang terjadi, yang ku inginkan hanya waktu yang lebih lama untuk ku bersama dengan Ren.

Di bawah langit malam bertahtakan bintang-bintang, beralaskan rumput yang beriringan menari diterpa angin. Disinilah aku dan Ren yang terduduk mencoba untuk saling menguatkan meski masing-masing dari kami merasakaan rapuh atas kenyataan yang tak terbantahkan. Usia kami  baru beranjak menuju dunia yang lebih rumit, tapi kami juga ingin menikmati indahnya cerita yang disuarakan dunia. Kami bukan apa-apa di bawah bintang-bintang, meski terlihat kecil tapi mereka begitu besar disana dan begitu jauh untuk diraih. Mereka saksi atas kerapuhan kami yang tak bisa lari dari kenyataan. 

Setiap insan dunia tercipta dari kasih dan cinta oleh Sang Kuasa, mereka pun terlahir, hidup, dan mati dengan cinta. Bagi ku definisi cinta ialah tak terbatas, tergantung pada siapa yang mendefinisikan dan menjadikannya pusat dari pemikiran. Aku bukanlah gadis yang dipenuhi keistimewaan, tak berparas jelita, tak pula berlogika tinggi ataupun berakhlak mulia, aku hanya gadis biasa yang dipenuhi imajinasi dan mimpi-mimpi. Mencintai langit dengan segala kagum, tapi tak berusaha mengenal langit lebih jauh. Sama halnya dengan aku yang begitu mengagumi Ren, tapi tak berusaha untuk memahaminya lebih jauh. Apa ini hukuman atas usaha ku yang tak berjalan?

“Vi..”, Ren berlutut di depan ku dan menatap ku dalam-dalam.
“Ore ga suki, honto ni suki dayo.”

Aku tak kuasa lagi menahan air mata yang sedari tadi telah ku bendung. Tangis ku pecah dalam dekapan Ren dan aku merasakan getaran tubuh ku yang tak terkendali karena perasaan sesak atas kenyataan yang tak bisa ku terima. Aku menyukai Ren, mengagumi Ren, menyangi Ren, dan selalu ingin bersama dengan Ren. Mengapa rasa yang begitu berarti ini harus bisa ku lepaskan, bahkan ketika itu adalah untuk seorang yang benar-benar ingin ku jadikan tujuan dari perasaan ini? Mengapa kesempurnaannya tak bisa ku miliki disaat aku telah mendapatkan hatinya? Pikiran dangkal ku seolah ingin mendominasi seluruh ruang pada otak ku, “takdir macam apa ini?!”

Ren memeluk ku lebih erat dan aku benar-benar merasakan kehangatan tubuh Ren yang menyangiku dan tak ingin melepaskan ku. Aku ingin membekukan waktu saat ini. Tak ada hal lain yang ku ingin selain bersama dengan Ren, rasanya dunia ini sudah tak ada artinya lagi jika kami tak bersama. Kami mungkin masihlah naif, tapi bukan kah inilah yang dirasakan oleh mereka yang begitu saling menyangi dan tak ingin dipisahkan?

It’s talk about faith and related own relation with God. Can you see there are some right way with the problem of us? Yeah, certainly. Our religions is different and we know there is a way to break up the different. Then you will know that we have our own princip of our life each other. So, did you think it was easy? It’s no way. Please reset your mindset, if you want to give the solve.