Jumat, 04 November 2016
Kamis, 03 November 2016
Salah ku..
Apa yang ada pada ku rasanya tak pernah benar. Kelahiran ku dan kehadiran ku, apa hingga kematian ku nanti pun adalah sebuah kesalahan? Lalu dimanakah seharusnya keberadaan ku ini ada? Aku kalut, tak punya arah, tak punya pijakan, sandaran, dan tumpuan. Salah ku menjauh secara perlahan dari jalan yang Ia gariskan. Menjauh dari apa yang seharusnya ku lakukan. Salah ku menghilangkan jati diri ku, memudarkannya secara perlahan hingga disaat aku seharusnya bisa betindak, aku tak punya keberanian, tak punya alasan, bahkan tujuan dari apapun yang harusnya aku bisa. Aku salah, benar-benar salah dan yang tersisa hanya penyesalan. Penyesalan yang takkan merubah apapun, penyesalan yang takkan ada gunanya jika hanya terus berdiam dalam lingkaran ketakutan. Dalam tawa yang mereka lihat atau lazimnya sikap ku yang mereka rasa, aku bukan lah apa-apa. Aku penipu, pemanipulasi, pembohong, terhina. Tak ada ruang dan tempat yang bisa menerima keberadaan ku. Sungguh aku ingin pergi. Sungguh, aku benar-benar ingin pergi.
Belum lama, bahkan terlalu sering hingga sekarang terasa puncaknya. Dia, laki-laki yang pernah memberikan ku kepercayaannya yang berharga. Kepercayaan bak intan yang tak ternilai harganya di jagad manapun. Aku dengan ego manusia ku yang dia dan aku benci juga, adalah penyebab utama dari kehancuran ini. Tak ada yang bisa aku pikirkan, ku jelaskan, ku katakan, dan ku rasakan. Sesal ini begitu menyiksa ku hingga aku benar-benar ingin pergi. Meski tak ada tujuan yang ku persiapkan, aku hanya ingin pergi jauh darinya bahkan bisa lenyap dalam kehidupannya baik itu di masa lalu, saat ini, dan nanti. Aku pernah memohon kepada Tuhan untuk memberikan keberuntungan ku. Sekarang aku berpikir perlahan keberuntungan ku mulai lenyap, tapi setelah ku pikir lagi, ini adalah karma dari perbuatan ku yang tak bisa merasakan sakit dari orang lain atas perbuatan ku. Memahami apa yang ada, mungkin sekarang saatnya aku kembali pada jalan yang seharusnya. Rasanya berat ketika ingin melangkah, tapi aku tahu kemana tepatnya aku harus berjalan.
Perasaan ini lebih dari sekedar kalut, mengambang, bak asap yang hanya membumbung mengikuti arah angin, lenyap tanpa diketahui tapi terasa sakitnya dalam paru. Aku hanya berusaha menepis semua kegalauan ini. Terkadang aku ingin meneteskan air mata, tapi sakit di dada ini membuat air mata itu begitu sulit dikeluarkan. Aku tak bisa membahasakannya dengan kata-kata. Perasaan sesal yang tiada tara, dada yang sakit seperti tertindih beban berat, air mata yang bagaikan luka tersumbat yang menyiksa. Tak ada yang bisa ku katakan lagi. Ku pikir mungkin dengan menulis ini perasaan ku bisa cukup tenang. Untuk beberapa hari ke depan aku ada ujian di kampus, jadi aku berusaha keras untuk bisa membuat pikiran ku fokus. Ujian tadi sudah ku lewati dengan benar-benar bodoh. Esok tak boleh lagi, tak boleh, dan benar-benar tak boleh.
Aku ingin menemui guru ku dan teman ku, yang pernah begitu menyayangi ku dan membanggakan ku. Harap besar ku, aku masih diterima, dimaafkan, dan tidak diacuhkan. Memulai memang selalu membuat ku takut. Tapi aku terlalu kesal untuk tidak mencobanya sama sekali. Demi orang yang ku sayang, demi orang yang ku cinta, dan demi mereka yang pernah dan masih menyayangi dan mencintai ku bahkan tanpa ku keteahui, ku harap esok adalah awal langkah ku untuk membalas semua kebaikan kalian. Ku harap esok adalah langkah yang membuat ku kemabali menjadi baik dan membawa ku ke arah yang lebih baik lagi.
Aku tak menginginkan piala atau penghargaan atas perbuatan ku, aku hanya ingin terus bersama mereka yang ku sayangi dan bisa membalas perlakuan mereka yang menyayangiku. Mungkin aku hanya bisa berkata-kata, tapi setelah ini aku akan berusaha lebih keras lagi untuk tidak sekedar kata-kata.
“Ren, andai kamu membaca ini.. aku menyesal tapi merasa tak pantas untuk meminta maaf. Aku bukan orang baik, apalagi ketika dirundung masalah yang bertubi seperti ini. Kamu tahu bahwa aku pernah berlari? Hingga sekarang aku masih berlari dari semua masalah itu. Aku ingin menangis tapi tak bisa.
Ren, aku benar-benar menyesal. Aku harap kamu baik-baik saja dan tetap merasakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup mu.”
Senin, 24 Oktober 2016
Entah
Tak ada kata yang bisa ku katakan
dan serupa dengan itu pun isak ku tak bisa menyeruak kembali. Perih yang
ditahan dan rasa yang diibunuh. Akankah itu menjadi sebuah kesalahan yang lain?
Dua mata ku memang tak normal, tapi benarkah yang lainnya serupa dengan itu? Aku
ingin berangkat untuk mengetahuinya, tapi aku tak bisa. Masih berjuang tuk
melawan meski tak jelas apa yang ku lawan dan apa yang ku tahan. Rasanya aku
ingin lenyap, dari apapun yang disebut keberadaan dan dari kapan pun saat itu
ada. Menghujani bumi dengan segala bentuk emosi dan membumbungkan segala angan
pada langit luas. Aku tak berpijak pada bumi maupun menggantung di angkasa. Aku
hanya mengapung diantara bumi dan langit. Menatap sekeliling, merasakan angin
yang berhembus, menikmati segala rasa yang ada dalam atmosfer kehidupan,
menerka kejadian yang bisa terjadi bersamaan. Dengan memejamkan mata dan
berfokus pada satu hal. Menahan nafas. Hembuskan. Akankah hembusan itu terjadi
bersamaan pada hampir semua manusia yang ada di bumi? Ketika memikirkannya aku
mulai menerka ada berapa banyak manusia yang menjadikan detik itu sebagai
hembusan nafasnya yang terakhir, ada berapa banyak manusia yang berjuang hidup
didetik itu, ada berapa manusia yang baru memulai menghembuskan nafasnya di
dunia, ada berapa banyak manusia yang mengalami ketakutan, merasakan
ketidaknyamanan, merasa di luar batasan, kebahagian, suka ria tak terhingga,
dan menangis sendiri dalam hiruk pikuk kehidupan yang terus berjalan. Seakan ku
bercermin pada apapun yang ada di hadapan ku, tapi pandangan ku tak ku biarkan berada
disana. Begitu sulit untuk terus berpikir ketika dada ini sesak saat
merasakannya. Tapi aku selalu bersyukur ketika apapun rasa yang terjadi pada
ku. Aku bersyukur bisa merasakannya sehingga aku pun tahu mengapa ada orang
lain di luar sana yang melakukan hal-hal tak lazim atau pun terlalu lazim
karena perasaan-perasaan itu. Bunuh diri karena tak kuat menjalani hidup,
membunuh saingan cinta hanya karena api cemburu, mengkonsumsi narkoba karena
depresi, memakan bagian tubuhnya sendiri, membantai anggota keluarganya, dan
membakar atau mengubur dirinya sendiri hidup-hidup. Waw, apa itu terdengar
mengerikan? Selain itu aku tentu pernah merasakan suka cita dan cinta. Ketika seluruh
dunia rasanya hanya milik ku dan dirinya sehingga kami pun bebas untuk melakukan
apapun. Seakan segala yang ada pada ku akan ku berikan untuknya. Apapun yang ku
bisa akan ku lakukan hanya untuknya. Setiap waktu yang ku punya hanya untuk
bersamanya. Segala hal yang ku lakukan adalah atas namanya. Terlalu lazim
bukan? Ya, begitulah yang ku rasakan sejauh aku hidup. Melewati masa-masa sulit
dan juga indah. Pernahkah terpikir bahwa semua ini adil dan akan selalu selaras
atau sebanding dengan apa yang sudah dan akan kita rasakan? Semua tergantung
pada diri masing-masing. Seberapa kekuatan yang kamu punya, bagaimana kamu
bersyukur, seberapa kuat kamu yakin atas segala hal yang diberikan kepada mu,
serta seberapa kuat keyakinan mu akan semua itu. Aku selalu percaya apa yang ku
yakini adalah hal yang akan menjadi milik ku. Tak percaya? Cobalah untuk
menemukan jawaban itu sendiri.
Kini aku berada di bagian bawah roda
kehidupan, tanpa siapapun yang ku rasa bisa membuat ku merasa lebih baik. Aku diam
dan berusaha berpikir, tapi sepertinya aku lebih banyak menghabiskan waktu ku untuk
tertidur dan membiarkan pikiran ku kosong. Setiap manusia memiliki caranya
sendiri untuk mengatasi rasa sakit yang dimilikinya. Aku ingin terbaring diatas
padang rumput dan menatap langit, tak peduli itu siang ataupun malam. Aku ingin
menyatu dengan suasana saat itu. Ku harap aku masih memiliki waktu untuk
menikmatinya. Pergi mungkin berarti sakit bagi yang ditinggalkan, tapi pergi
itu juga berarti sebuah harapan bahwa akan bertemu lagi. Tak peduli pada ruang
dan waktu yang akan mempertemukannya kembali. Ketika keyakinan itu kuat maka
itulah yang akan terjadi. Hanya mampu berbicara melalui doa dan harapan serta
keyakinan yang menguatkan mereka.
Kita akan bertemu lagi.
Sabtu, 22 Oktober 2016
Tak Terjelaskan
Rasa ini
berbuat semaunya dan aku adalah manusia yang siap tersiksa karena ulahnya.
Bayangan masa lalu itu ku biarkan melekat dan mengikuti ku hampir sepanjang
waktu. Ada rasa bahagia yang diikuti sayatan pedang disetiap detik bayangan itu
singgah. Aku pasrah dengan keberadaannya yang diikuti oleh ingin ku tuk
mengenang. Tak ada yang bisa ku jelaskan dan hanya air mata ini yang selalu ku
biarkan mengalir seadanya. Dari dekapan waktu yang tak diketahui siapapun serta
ruang yang mungkin tak terpikirkan, aku berusaha untuk mengeluarkan segala rasa
yang hanya bisa terwujud dalam tangis. Terkadang isak ku sulit tuk terhenti
hingga mata sembab pun tak bisa ku hindari. Mashocist
yang ku derita nampaknya memang benar adanya. Rasa ingin berlari namun
terjatuh berkali-kali. Seakan tak tahu arti dari luka dan mengerti arti untuk
diam dan berhenti. Angin yang berhembus menyibakkan rambut ku yang selalu ku
biarkan terurai. Hanya rambut ini yang selalu ku andalkan untuk menutupi rasa
malu pada rupa ku yang tak pantas. Aku menyukai mata dan tatapan yang melekat
padanya, tapi terkadang rasa benci begitu merajai ku atas mata dan tatapan ku
sendiri. Ini kian sulit ketika aku berusaha memikirkannya, mencari solusi,
ataupun menjalaninya. Terlalu rumit tuk ku pahami dan terasa berat tuk ku
hadapi sendiri. Tapi aku selalu berusaha berada pada pijakan setiap orang yang
ku kenal, bahkan berpijak pada tempat yang sama dengan mereka yang hanya dalam
terkaan. “Setiap orang mempunyai bebannya sendiri, dan mereka punya cara
masing-masing untuk menghadapinya.” Lemah yang terkadang ku banggakan dan
kemudian ku tujukan untuk mendapatkan perhatian. “Hina.” Entah siapa yang akan
tahu bahwa aku begitu membenci diriku sendiri yang begitu hina. Bahkan terlalu
banyak masa lalu yang ingin ku benahi tapi tak ada cara bagi ku untuk
menebusnya karena kehinaan yang telah ku lakukan dan hina itu seakan tak mudah
dilepaskan.
Ya, aku
merindukannya. Desah nafasnya tak bisa ku ingat lagi. Tapi keberadaannya
disekitar ku masih terasa dan begitu ingin tetap ku rasa. Berada dalam
pandangannya dan merasakan sentuhannya, mungkin itu nafsu tapi tak ada gairah
atau getaran berat yang melanda jantung ku waktu itu. Aku benar-benar meraskan
kenyamanan itu karena kelembutannya yang tulus ku rasa. Tak ada yang tahu dan
sepantasnya begitu. Dia yang tak ingin mengumbar, dan serupa dengan ku yang tak
ingin dia malu atau reputasinya yang terjatuh hanya karena ada nama ku dalam
hidupnya. Penyesalan yang tak ada akhir diikuti banyak kata tak pasti yang tak
terjelaskan. Aku ingin berteriak hingga suara ini tak terdengar. Isak ku kini
kian berat, serasa air mata ku telah mengering dan begitu sulit untuk
meneteskannya lagi. Riak ku yang berbicara sendiri. “Kamu nyiksa dirimu
sendiri.” Tanpa perlu bertanya, aku seakan tahu apa yang akan ia katakan dan
aku tahu apa yang dirasakannya. Sungguh, aku juga ingin keberadaan ku
benar-benar lenyap dalam hidup mu. Untuk saat ini aku berusaha untuk tak
mengambil serta berhenti mengambil jalan yang sama dengan mu. Adapun jalan yang
tak bisa ku tinggalkan dimana kamu juga ada disana, aku pun tak punya kuasa
atas hal tersebut. Ketahuilah bahwa pernah aku berpikir mimpi mu yang bulat itu
pernah menjadi mimpi ku yang berukuran setengah lebih. Rasanya mimpi itu kian
membesar seiring keberadaan mu. Tapi kali ini ku rasa semua sudah menguap dalam
wadah yang tak terjelaskan. Pernah ku pikir untuk memadatkannya dan mencoba
menyamakannya dengan milik mu. Tapi akhir-akhir ini aku merasa tak bisa, aku
tak bisa melihat diri ku berada pada jalan yang sama dimana kamu ada. Aku tahu
kamu begitu lelah, begitu keras berjuang untuk segala hal yang kamu inginkan,
begitu ingin menikmati hal yang kamu cintai, begitu mencintai apa yang bagi mu
adalah benar dan baik. Betapa kejinya aku yang sudah mengetahui semua itu namun
tetap berada pada cara yang dapat menyakiti mu. Sulit untuk bisa melepaskan
segalanya dan sering ingin ku untuk kembali dituntun dan dibarengi oleh hadir
mu. Terimakasih, semua tentang mu kali ini memberi ku sinyal bahwa aku
benar-benar bukanlah hal yang bisa dan pantas untuk berada dalam cerita mu. Keras
ku berharap jalan yang kita lalui bersama ini akan segera berakhir, meski
terkadang aku ingin berpikir bahwa kamu tak sebegitu membenci ku. Tapi
mengingat apa yang telah ku lakukan membuatku menampar diri untuk sadar atas
apa yang terjadi. Rasanya banyak kata yang ingin ku katakan, tapi ya
begitulah.. Kata-kata itu tak bisa terjelaskan.
Selagi ada yang bisa ku lakukan
dan ku pikir itu adalah baik untuk mu, maka akan selalu ku usahakan. Jika yang
ku lakukan salah, ku harap hal baik tetap berlaku untuk mu. Izinkan aku untuk masih
menyebut nama mu dalam tangis dan kemalangan ku. Jika waktunya tapat dan aku
sudah pantas, izinkan aku mengatakan dua kata untuk mu. “Maaf” dan
“Terimakasih”.
Rabu, 28 September 2016
"Tolong.. Bicaralah.."
Jika waktu itu adalah hal terbaik
yang kamu beri, aku berharap.. aku tak sehina itu di mata mu sehingga
kamu relakan waktu mu yang berharga untuk gadis yang tak punya apa-apa.
Kata maaf yang tak hentinya menyeru
dalam benak, serta kata terimakasih yang sulit terucap. Dua kata yang penting,
tapi tak tahu mana yang harus benar-benar terucap. Pikiran ini hanya mendoktrin
kata maaf, tapi hati ini menangis untuk mengucapkan terimakasih yang tulus.
Kamu.. nama mu yang tak mudah untuk
diucapkan sejak itu dan hingga kini. Perasaan ku yang sulit terlepas dari
keberadaan mu yang diilusikan waktu. Bayang yang lewat, waktu yang berlalu,
perasan yang tak menentu, ku harap itu memang bukan palsu. Meski ingin
mendapatkan kata itu dari mu, tapi aku tahu betapa melelahkannya dirimu
menanggapi ku.
Aku ingin berseru dan menangis di
depan mu agar kamu tahu bahwa aku begitu sulit. Tapi, selayaknya kamu yang tak
tahu keberadaan ku setelah itu, begitupun juga aku yang tak tahu lagi tentang
mu setelah itu. Sempat ku berpikir untuk kembali seperti dulu. Tapi aku takut,
terlalu takut untuk memulai, terlalu takut bahwa itu salah, terlalu takut bahwa
kamu tak menginginkannya, terlalu takut kamu telah membenci ku, terlalu takut
membayangkan bahwa kamu tak ingin dunia mu diisi oleh ku, terlalu takut akan
semakin banyak penyesalan yang ada. Aku terlalu takut, terlalu takut untuk
mengatakan semuanya. Berharap kamu tahu, berharap kamu memberiku jawaban atas
pertanyaan yang tak bisa ku ungkap. Rasanya begitu dekat tapi terhalang ilusi. Ntah
ilusi apa yang menenggelamkan ruang yang seharusnya ada.
... bisakah aku menjadikan mu
tempat yang nyaman lagi untuk ku?
.. masih ingatkah kau berjanji
untuk tak menginggalkan ku? Aku tak tahu malu, setelah apa yang ku lakukan aku
masih berharap janji mu. Aku tak merendahkan mu dan selalu yakin bahwa keberadaan
mu adalah benar seperti yang ku pikir dan semua itu adalah hal baik tentang mu.
.. bicaralah pada ku.
Tolong, hancurkan kelam yang ada
pada ku.
Ku mohon..
Jangan tinggalkan aku sendiri..
Meski kecewa mu tak terbayang oleh
ku, tapi ku mohon..
Jangan tinggalkan aku sendiri dan
membenci ku, seperti janji mu..
Bicaralah..
Senin, 19 September 2016
"Terimakasih"
“Aku
cuma bisa dapat 8”
Ren
mengawasi ku dari jauh, “itu sudah lebih dari cukup”
Di
tepi pantai yang selalu kami kunjungi, merasakan hembusan angin dan menikmati
desiran ombak adalah kebiasaan kami. Namun cukup berbeda untuk kali ini. Kami mengumpulkan
kerang yang memiliki corak warna biru dan meninggalkan jejak jantung bila
dihempaskan ke pasir. Apa itu hal yang aneh? Mungkin tidak untuk kami.
“Kamu
gak kepanasan?”, Ren menghampiri ku dan membentuk bayangan yang menjatuhi ku.
“Mm,
lumayan”
Untuk
beberapa saat aku merasa kehilangan massa badan ku. Tanpa bisa memikirkan apa
yang terjadi, aku terhuyung di atas pasir pantai yang terpapar sinar terik matahari.
Ren
sedikit lambat menyadari keadaan ku hingga aku pun terjatuh pingsan. Dengan sigap
setelah mendapati kesadarannya, Ren pun menggendongku dan membawa ku tempat
yang sejuk dibawah pohon.
“Seharusnya kamu
gak maksain diri kalo emang gak kuat”
Dari sisa
kesadaran yang ada aku dapat merasakan desah nafas Ren yang begitu berat
setelah menggendongku. Dalam hati aku hanya bisa berbisik maaf untuk Ren dan
semoga dia akan baik-baik saja. Tanpa memikirkan keadaan ku kala itu, aku lebih
memikirkan keadaan Ren setelah menggendong ku. Bukan maksud ku untuk menilai
Ren sebagai laki-laki yang lemah hanya karena menggendong ku. Tapi, keadaan Ren
saaat itu tidak memungkinkan dia untuk bekerja berat, seperti menggendongku
misalnya.
Dalam keadaan
terbaring aku berusaha untuk mengatur nafas ku. Aku ingin memastikan keadaan
Ren dan tak ingin membuatnya khawatir. Saat aku berusaha untuk mengembalikan
keadaan ku, aku merasakan sentuhan Ren diseluruh wajah ku. Ren mengusapi
seluruh wajah ku yang berkeringat dan menyingkirkan helaian rambut ku yang
lengket. Aku ingin melihat tatapan Ren, tapi rasanya aku sendiri belum bisa
membuka mata ku. Tangan Ren membenahi baju ku yang berantakan karena terjatuh
tadi. Itu kali pertama aku merasakan sentuhan orang lain selain keluarga ku,
yang begitu lembut merawat ku. Aku benar-benar merasa nyaman dan tidak
keberatan jika itu adalah Ren.
Berbaring diatas
pangkuan Ren, terlihat seperti aku yang manja pada laki-laki yang harusnya bisa
ku manjakan. Aku begitu lemah dan bodoh untuk bersikap yang seharusnya pada
laki-laki. Tapi lebih dari itu aku merasakan tanggung jawab Ren atas diri ku,
yang ingin menjaga ku dan menyangi ku seperti yang ia bisa. Apalagi yang lebih
baik dari itu ketika yang dibicarakan adalah tentang keberadaan laki-laki dan
perempuan di dunia fana ini?
Ren, seharusnya aku berterimakasih untuk itu
kan?
Kesejukan senja
mulai menghampiri dan jingga pun mulai bermunculan dari persembunyiaannya.
Hangat yang sejuk, indah dan ingin dikenang. Mungkin itulah yang aku rasakan
kala itu ketika aku sudah mendapatkan kendali atas diri ku sendiri.
“Gak apa-apa
cuma 8?”, aku dan Ren duduk bersebelahan menatap langit jingga di atas berugak
beratap ilalang yang ada di tepi pantai.
“Iya, malah
seharusnya kamu gak perlu ngelakuin itu.”
Ren menatap
kudengan tatapan yang tak bisa ku definisikan. Tatapan Ren kala itu begitu
berbeda dari yang biasanya ia tunjukkan untuk ku. Hati ku tiba-tiba terasa
membeku, seakan ditahan benda berat dan dada ku menjadi begitu sesak.
Ren berdiri
dihadapan ku ketika aku mulai berdiri, “Kita pulang.”
“Mm”
Tanpa sadar aku
merasakan suhu badan Ren, merasakan dekapannya dan mendengarkan detak
jantungnya. Mata ku terpejam hanyut dalam hangatnya pelukan Ren. Tak ada yang
bisa ku pikirkan ataupun ingin ku lakukan. Dalam pelukan Ren aku terdiam,
menikmati aroma tubuh yang sudah membuat ku terbiasa, mendengarkan irama detak
jantung yang tak pernah ku dengar sebelumnya, merasakan kesejukan alam yang
menyelinap diantara pelukan Ren yang hangat, merasakan tatapan langit yang
tajam atas keberadaan kami dibawah kolongnya. Aku bahagia.. aku bahagia.. aku
bahagia... Aku bersyukur atas segala hal yang telah membiarkan ku merasakan
ini, bersyukur atas keberuntungan yang diberikan kepada ku, bersyukur atas
kehadiran Ren dalam hidup ku, bersyukur menjadi aku yang seperti ini.
Ren, seharusnya aku bisa mengucapkan
terimakasih secara langsung untuk mu dengan benar kan?
Kamis, 15 September 2016
Kita Berdua
Hanya kita, yang tahu arti tatapan itu
Hanya kita, yang tahu makna lambaian tangan itu
Hanya kita, yang tahu keberadaan cerita itu
Hanya kita..
Hanya kita berdua.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)