When we grow apart, it’s destiny
It’s just how it was supposed to be
But I know that I’m not strong enough to accept that so easily
Each and every single answer that comes my way
Are sold at too high a price for me to pay
They rob me of the courage to leave it all and move on
The song that I once sang and gave to you
is now just a sad love song, overplayed a time or two
Let the wind flow in and blow it away
Back to that time, that summer day when I fell in love with you
When we draw near each other, it’s destiny too
The way it’s supposed to unfold, through and through
If I could convince myself it was meant to be,
maybe I wouldn’t feel so alone
Each and every single answer that comes my way
Have way too many hypocrisies to say
They erase the path that I need to take to the other side
If the past and future both decide to disappear
Do you think that then I’d be finally free
If I could pick one emotion to do away with at last
If I picked my love for you would I be able to go back
If I could one day hear every song that you heard
Breathe everything you breathed, feel everything you felt
If I could be your eyes and see the world like you did
Then maybe I could love you the way I’ve always wanted to
Source : https://furahasekai.net/2015/03/02/nano-%E3%83%8A%E3%83%8E-calc-piano-live-version-lyrics-indonesian-translation/
Senin, 26 Desember 2016
Rabu, 23 November 2016
Mengurangi C6H12O6 (Karbohidrat)
Mungkin aku mengerti mengapa mereka yang sedang bersedih dan pikirannya dipenuhi oleh kegalauan dan duka lebih sering tidak nafsu makan atau pola makannya menjadi tidak teratur. Asumsi yang ku dapatkan atas pengalaman ku sendiri adalah karena dengan mengurangi karbohidrat maka otak akan mengurangi aktivitasnya, yaitu berpikir. Dengan begitu, seseorang yang sedang bimbang, berduka, atau dirundung kegalauan akan berkurang sejenak pikirannya atas masalah yang mereka hadapi. Asumsi ini bisa jadi salah karena setiap individu memiliki pendapat yang berbeda.
Tapi, mengurangi konsumsi karbohidrat dalam jangka waktu tertentu bukanlah jaminan untuk menghilangkan perasaan sedih, duka, ataupun masalah yang sedang dihadapi. Hal ini hanyalah ungkapan atau pelampiasan emosi seseorang atas permasalahan hidup yang tengah dihadapi. Perlu di ingat bahwa pola hidup yang tidak baik seperti mengurangi karbohidrat tanpa pola yang tepat akan menimbulkan masalah baru bagi kesehatan fisik seseorang. Perlu bagi individu yang tengah mengurangi karbohidrat karena sebab alasan dirundung masalah untuk memikirkan kemungkinan munculnya masalah baru terkait tubuhnya karena pola hidup tak sehat hanya karena kesedihan oleh sebab suatu masalah.
Singkatnya, berpikirlah lebih jauh atas tindakan yang dilakukan ketika menghadapi masalah. Jangan sampai hanya karena ingin melampiaskan emosi yang tidak beraturan atau tanpa berpikir lebih lanjut mengenai masalah yang dihadapi malah menimbulkan masalah baru bagi anda.
“Setiap orang memiliki sakit dalam hidupnya, tapi mereka memiliki cara masing-masing untuk menghadapinya.”
Senin, 21 November 2016
“Bolehkah aku berbisik rindu pada angin yang mungkin melalui mu?”
Ku pandangi ruang obrolan yang sudah berulangkali ku kosongkan agar tak ada kesempatan bagi ku untuk berulang membaca isinya. Keadaan ku yang tak sekuat sebelumnya untuk tetap menunggu mu membuat ku putus asa untuk tetap menanti hadirnya sua dari mu. Ku intip sekali lagi... bahkan isyarat kau telah membacanya pun tak ada. Apa sebaiknya aku sudahi dan menuju baringan yang menjadi tempat persembunyian ku dari rindu pada mu? Rasa punggung ku kian nyeri, tapi ku tahan untuk tetap menulis ini.
Laki-laki yang saat ini selalu membuat ku ingin menutup mata, menghapus bayang masa lalu yang terus menghantui, dan meninggalkan sesal seumur hidup yang tak kan mampu lagi tuk ku tebus. Pagi ini ku temukan detik waktu yang membiarkan mata kita bertemu. Aku ingin mencurinya lagi, meski tanpa kata yang melibatkan kita dalam sebuah percakapan. Pernah sebelumnya aku merasakan arti tatapan mu yang lembut dan senyaman dulu. Bahagia tentu dan eurofia itu tak dapat ku pungkiri. Iya, berhari-hari aku merasakan eurofia atas tatapan mu itu. Mungkin saja aku salah memaknainya, tapi hati ku terlalu bahagia untuk bisa menolak apa yang mungkin diperkirakan oleh otak ku. Jiwa mu yang ku rasa ingin berada pada hadir ku. Aku tak menolak, hanya saja aku seakan tak bisa membiarkan mu ada atau menarik mu ada dalam ruang itu. Aku penuh bimbang jika itu berkaitan dengan mu. Kadang aku tak hentinya menggerutu kenapa tak hentinya bayang mu muncul dalam benak ku dan ntah apa itu (antara hati atau pikiran ku) yang berseru untuk mengusir mu. Terkadang aku membiarkan nostalgia pada masa lalu itu berjalan dan kemudian aku sadar dengan luka yang telah ku buat sendiri dan rasa takut ku yang begitu besar untuk mengakibatkan kerusakan lebih fatal yang berhubugan dengan mu. “Bunuh aku.” Mungkin itu singkat kata dan deskripsi tegas atas apa yang ku rasa kala itu. “Oh Dewa, kapan pula dia kan membalas jawab ku..” Aku masih menunggu pemberitahuan itu datang dari mu.
Lama angan ku berputar untuk teguh tak menegur mu, ntah itu sapa maya maupun nyata. Terkadang terkuras pula perasaan ini atas apa yang bisa dan tak bisa ku lakukan untuk dirimu. Rumit, adalah kata yang bisa menjelaskan ku dalam satu detik. “Tuhan, aku berharap dia selalu dalam perlindungan mu dan merasa bahagia atas dunia yang melingkupinya.”
Raga ku tak bisa menunggu lebih lama, jika tak bisa maka tak ada lagi yang bisa ku kata. Aku hanya mencoba apa yang selama beberapa waktu ini ku tahan. Mungkin jelas salah, tapi perasaan ku berkata masih ada waktu yang mengizinkan ku bersama mu. Meski jelas ku pikir itu mustahil, tapi harap itu selalu berteman dengan air mata ku. Dosa ku tentu berat dan kenangan itu akan selalu ku jaga meski itu tak pantas lagi untuk disandingkan bersama mu. Tak ada kata yang baik dan lebih baik yang bisa ku ucapkan. Dua hal yang tak hentinya hati dan bibir ku berbisik, hanya maaf dan terimakasih.
Jumat, 04 November 2016
Kamis, 03 November 2016
Salah ku..
Apa yang ada pada ku rasanya tak pernah benar. Kelahiran ku dan kehadiran ku, apa hingga kematian ku nanti pun adalah sebuah kesalahan? Lalu dimanakah seharusnya keberadaan ku ini ada? Aku kalut, tak punya arah, tak punya pijakan, sandaran, dan tumpuan. Salah ku menjauh secara perlahan dari jalan yang Ia gariskan. Menjauh dari apa yang seharusnya ku lakukan. Salah ku menghilangkan jati diri ku, memudarkannya secara perlahan hingga disaat aku seharusnya bisa betindak, aku tak punya keberanian, tak punya alasan, bahkan tujuan dari apapun yang harusnya aku bisa. Aku salah, benar-benar salah dan yang tersisa hanya penyesalan. Penyesalan yang takkan merubah apapun, penyesalan yang takkan ada gunanya jika hanya terus berdiam dalam lingkaran ketakutan. Dalam tawa yang mereka lihat atau lazimnya sikap ku yang mereka rasa, aku bukan lah apa-apa. Aku penipu, pemanipulasi, pembohong, terhina. Tak ada ruang dan tempat yang bisa menerima keberadaan ku. Sungguh aku ingin pergi. Sungguh, aku benar-benar ingin pergi.
Belum lama, bahkan terlalu sering hingga sekarang terasa puncaknya. Dia, laki-laki yang pernah memberikan ku kepercayaannya yang berharga. Kepercayaan bak intan yang tak ternilai harganya di jagad manapun. Aku dengan ego manusia ku yang dia dan aku benci juga, adalah penyebab utama dari kehancuran ini. Tak ada yang bisa aku pikirkan, ku jelaskan, ku katakan, dan ku rasakan. Sesal ini begitu menyiksa ku hingga aku benar-benar ingin pergi. Meski tak ada tujuan yang ku persiapkan, aku hanya ingin pergi jauh darinya bahkan bisa lenyap dalam kehidupannya baik itu di masa lalu, saat ini, dan nanti. Aku pernah memohon kepada Tuhan untuk memberikan keberuntungan ku. Sekarang aku berpikir perlahan keberuntungan ku mulai lenyap, tapi setelah ku pikir lagi, ini adalah karma dari perbuatan ku yang tak bisa merasakan sakit dari orang lain atas perbuatan ku. Memahami apa yang ada, mungkin sekarang saatnya aku kembali pada jalan yang seharusnya. Rasanya berat ketika ingin melangkah, tapi aku tahu kemana tepatnya aku harus berjalan.
Perasaan ini lebih dari sekedar kalut, mengambang, bak asap yang hanya membumbung mengikuti arah angin, lenyap tanpa diketahui tapi terasa sakitnya dalam paru. Aku hanya berusaha menepis semua kegalauan ini. Terkadang aku ingin meneteskan air mata, tapi sakit di dada ini membuat air mata itu begitu sulit dikeluarkan. Aku tak bisa membahasakannya dengan kata-kata. Perasaan sesal yang tiada tara, dada yang sakit seperti tertindih beban berat, air mata yang bagaikan luka tersumbat yang menyiksa. Tak ada yang bisa ku katakan lagi. Ku pikir mungkin dengan menulis ini perasaan ku bisa cukup tenang. Untuk beberapa hari ke depan aku ada ujian di kampus, jadi aku berusaha keras untuk bisa membuat pikiran ku fokus. Ujian tadi sudah ku lewati dengan benar-benar bodoh. Esok tak boleh lagi, tak boleh, dan benar-benar tak boleh.
Aku ingin menemui guru ku dan teman ku, yang pernah begitu menyayangi ku dan membanggakan ku. Harap besar ku, aku masih diterima, dimaafkan, dan tidak diacuhkan. Memulai memang selalu membuat ku takut. Tapi aku terlalu kesal untuk tidak mencobanya sama sekali. Demi orang yang ku sayang, demi orang yang ku cinta, dan demi mereka yang pernah dan masih menyayangi dan mencintai ku bahkan tanpa ku keteahui, ku harap esok adalah awal langkah ku untuk membalas semua kebaikan kalian. Ku harap esok adalah langkah yang membuat ku kemabali menjadi baik dan membawa ku ke arah yang lebih baik lagi.
Aku tak menginginkan piala atau penghargaan atas perbuatan ku, aku hanya ingin terus bersama mereka yang ku sayangi dan bisa membalas perlakuan mereka yang menyayangiku. Mungkin aku hanya bisa berkata-kata, tapi setelah ini aku akan berusaha lebih keras lagi untuk tidak sekedar kata-kata.
“Ren, andai kamu membaca ini.. aku menyesal tapi merasa tak pantas untuk meminta maaf. Aku bukan orang baik, apalagi ketika dirundung masalah yang bertubi seperti ini. Kamu tahu bahwa aku pernah berlari? Hingga sekarang aku masih berlari dari semua masalah itu. Aku ingin menangis tapi tak bisa.
Ren, aku benar-benar menyesal. Aku harap kamu baik-baik saja dan tetap merasakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup mu.”
Senin, 24 Oktober 2016
Entah
Tak ada kata yang bisa ku katakan
dan serupa dengan itu pun isak ku tak bisa menyeruak kembali. Perih yang
ditahan dan rasa yang diibunuh. Akankah itu menjadi sebuah kesalahan yang lain?
Dua mata ku memang tak normal, tapi benarkah yang lainnya serupa dengan itu? Aku
ingin berangkat untuk mengetahuinya, tapi aku tak bisa. Masih berjuang tuk
melawan meski tak jelas apa yang ku lawan dan apa yang ku tahan. Rasanya aku
ingin lenyap, dari apapun yang disebut keberadaan dan dari kapan pun saat itu
ada. Menghujani bumi dengan segala bentuk emosi dan membumbungkan segala angan
pada langit luas. Aku tak berpijak pada bumi maupun menggantung di angkasa. Aku
hanya mengapung diantara bumi dan langit. Menatap sekeliling, merasakan angin
yang berhembus, menikmati segala rasa yang ada dalam atmosfer kehidupan,
menerka kejadian yang bisa terjadi bersamaan. Dengan memejamkan mata dan
berfokus pada satu hal. Menahan nafas. Hembuskan. Akankah hembusan itu terjadi
bersamaan pada hampir semua manusia yang ada di bumi? Ketika memikirkannya aku
mulai menerka ada berapa banyak manusia yang menjadikan detik itu sebagai
hembusan nafasnya yang terakhir, ada berapa banyak manusia yang berjuang hidup
didetik itu, ada berapa manusia yang baru memulai menghembuskan nafasnya di
dunia, ada berapa banyak manusia yang mengalami ketakutan, merasakan
ketidaknyamanan, merasa di luar batasan, kebahagian, suka ria tak terhingga,
dan menangis sendiri dalam hiruk pikuk kehidupan yang terus berjalan. Seakan ku
bercermin pada apapun yang ada di hadapan ku, tapi pandangan ku tak ku biarkan berada
disana. Begitu sulit untuk terus berpikir ketika dada ini sesak saat
merasakannya. Tapi aku selalu bersyukur ketika apapun rasa yang terjadi pada
ku. Aku bersyukur bisa merasakannya sehingga aku pun tahu mengapa ada orang
lain di luar sana yang melakukan hal-hal tak lazim atau pun terlalu lazim
karena perasaan-perasaan itu. Bunuh diri karena tak kuat menjalani hidup,
membunuh saingan cinta hanya karena api cemburu, mengkonsumsi narkoba karena
depresi, memakan bagian tubuhnya sendiri, membantai anggota keluarganya, dan
membakar atau mengubur dirinya sendiri hidup-hidup. Waw, apa itu terdengar
mengerikan? Selain itu aku tentu pernah merasakan suka cita dan cinta. Ketika seluruh
dunia rasanya hanya milik ku dan dirinya sehingga kami pun bebas untuk melakukan
apapun. Seakan segala yang ada pada ku akan ku berikan untuknya. Apapun yang ku
bisa akan ku lakukan hanya untuknya. Setiap waktu yang ku punya hanya untuk
bersamanya. Segala hal yang ku lakukan adalah atas namanya. Terlalu lazim
bukan? Ya, begitulah yang ku rasakan sejauh aku hidup. Melewati masa-masa sulit
dan juga indah. Pernahkah terpikir bahwa semua ini adil dan akan selalu selaras
atau sebanding dengan apa yang sudah dan akan kita rasakan? Semua tergantung
pada diri masing-masing. Seberapa kekuatan yang kamu punya, bagaimana kamu
bersyukur, seberapa kuat kamu yakin atas segala hal yang diberikan kepada mu,
serta seberapa kuat keyakinan mu akan semua itu. Aku selalu percaya apa yang ku
yakini adalah hal yang akan menjadi milik ku. Tak percaya? Cobalah untuk
menemukan jawaban itu sendiri.
Kini aku berada di bagian bawah roda
kehidupan, tanpa siapapun yang ku rasa bisa membuat ku merasa lebih baik. Aku diam
dan berusaha berpikir, tapi sepertinya aku lebih banyak menghabiskan waktu ku untuk
tertidur dan membiarkan pikiran ku kosong. Setiap manusia memiliki caranya
sendiri untuk mengatasi rasa sakit yang dimilikinya. Aku ingin terbaring diatas
padang rumput dan menatap langit, tak peduli itu siang ataupun malam. Aku ingin
menyatu dengan suasana saat itu. Ku harap aku masih memiliki waktu untuk
menikmatinya. Pergi mungkin berarti sakit bagi yang ditinggalkan, tapi pergi
itu juga berarti sebuah harapan bahwa akan bertemu lagi. Tak peduli pada ruang
dan waktu yang akan mempertemukannya kembali. Ketika keyakinan itu kuat maka
itulah yang akan terjadi. Hanya mampu berbicara melalui doa dan harapan serta
keyakinan yang menguatkan mereka.
Kita akan bertemu lagi.
Sabtu, 22 Oktober 2016
Tak Terjelaskan
Rasa ini
berbuat semaunya dan aku adalah manusia yang siap tersiksa karena ulahnya.
Bayangan masa lalu itu ku biarkan melekat dan mengikuti ku hampir sepanjang
waktu. Ada rasa bahagia yang diikuti sayatan pedang disetiap detik bayangan itu
singgah. Aku pasrah dengan keberadaannya yang diikuti oleh ingin ku tuk
mengenang. Tak ada yang bisa ku jelaskan dan hanya air mata ini yang selalu ku
biarkan mengalir seadanya. Dari dekapan waktu yang tak diketahui siapapun serta
ruang yang mungkin tak terpikirkan, aku berusaha untuk mengeluarkan segala rasa
yang hanya bisa terwujud dalam tangis. Terkadang isak ku sulit tuk terhenti
hingga mata sembab pun tak bisa ku hindari. Mashocist
yang ku derita nampaknya memang benar adanya. Rasa ingin berlari namun
terjatuh berkali-kali. Seakan tak tahu arti dari luka dan mengerti arti untuk
diam dan berhenti. Angin yang berhembus menyibakkan rambut ku yang selalu ku
biarkan terurai. Hanya rambut ini yang selalu ku andalkan untuk menutupi rasa
malu pada rupa ku yang tak pantas. Aku menyukai mata dan tatapan yang melekat
padanya, tapi terkadang rasa benci begitu merajai ku atas mata dan tatapan ku
sendiri. Ini kian sulit ketika aku berusaha memikirkannya, mencari solusi,
ataupun menjalaninya. Terlalu rumit tuk ku pahami dan terasa berat tuk ku
hadapi sendiri. Tapi aku selalu berusaha berada pada pijakan setiap orang yang
ku kenal, bahkan berpijak pada tempat yang sama dengan mereka yang hanya dalam
terkaan. “Setiap orang mempunyai bebannya sendiri, dan mereka punya cara
masing-masing untuk menghadapinya.” Lemah yang terkadang ku banggakan dan
kemudian ku tujukan untuk mendapatkan perhatian. “Hina.” Entah siapa yang akan
tahu bahwa aku begitu membenci diriku sendiri yang begitu hina. Bahkan terlalu
banyak masa lalu yang ingin ku benahi tapi tak ada cara bagi ku untuk
menebusnya karena kehinaan yang telah ku lakukan dan hina itu seakan tak mudah
dilepaskan.
Ya, aku
merindukannya. Desah nafasnya tak bisa ku ingat lagi. Tapi keberadaannya
disekitar ku masih terasa dan begitu ingin tetap ku rasa. Berada dalam
pandangannya dan merasakan sentuhannya, mungkin itu nafsu tapi tak ada gairah
atau getaran berat yang melanda jantung ku waktu itu. Aku benar-benar meraskan
kenyamanan itu karena kelembutannya yang tulus ku rasa. Tak ada yang tahu dan
sepantasnya begitu. Dia yang tak ingin mengumbar, dan serupa dengan ku yang tak
ingin dia malu atau reputasinya yang terjatuh hanya karena ada nama ku dalam
hidupnya. Penyesalan yang tak ada akhir diikuti banyak kata tak pasti yang tak
terjelaskan. Aku ingin berteriak hingga suara ini tak terdengar. Isak ku kini
kian berat, serasa air mata ku telah mengering dan begitu sulit untuk
meneteskannya lagi. Riak ku yang berbicara sendiri. “Kamu nyiksa dirimu
sendiri.” Tanpa perlu bertanya, aku seakan tahu apa yang akan ia katakan dan
aku tahu apa yang dirasakannya. Sungguh, aku juga ingin keberadaan ku
benar-benar lenyap dalam hidup mu. Untuk saat ini aku berusaha untuk tak
mengambil serta berhenti mengambil jalan yang sama dengan mu. Adapun jalan yang
tak bisa ku tinggalkan dimana kamu juga ada disana, aku pun tak punya kuasa
atas hal tersebut. Ketahuilah bahwa pernah aku berpikir mimpi mu yang bulat itu
pernah menjadi mimpi ku yang berukuran setengah lebih. Rasanya mimpi itu kian
membesar seiring keberadaan mu. Tapi kali ini ku rasa semua sudah menguap dalam
wadah yang tak terjelaskan. Pernah ku pikir untuk memadatkannya dan mencoba
menyamakannya dengan milik mu. Tapi akhir-akhir ini aku merasa tak bisa, aku
tak bisa melihat diri ku berada pada jalan yang sama dimana kamu ada. Aku tahu
kamu begitu lelah, begitu keras berjuang untuk segala hal yang kamu inginkan,
begitu ingin menikmati hal yang kamu cintai, begitu mencintai apa yang bagi mu
adalah benar dan baik. Betapa kejinya aku yang sudah mengetahui semua itu namun
tetap berada pada cara yang dapat menyakiti mu. Sulit untuk bisa melepaskan
segalanya dan sering ingin ku untuk kembali dituntun dan dibarengi oleh hadir
mu. Terimakasih, semua tentang mu kali ini memberi ku sinyal bahwa aku
benar-benar bukanlah hal yang bisa dan pantas untuk berada dalam cerita mu. Keras
ku berharap jalan yang kita lalui bersama ini akan segera berakhir, meski
terkadang aku ingin berpikir bahwa kamu tak sebegitu membenci ku. Tapi
mengingat apa yang telah ku lakukan membuatku menampar diri untuk sadar atas
apa yang terjadi. Rasanya banyak kata yang ingin ku katakan, tapi ya
begitulah.. Kata-kata itu tak bisa terjelaskan.
Selagi ada yang bisa ku lakukan
dan ku pikir itu adalah baik untuk mu, maka akan selalu ku usahakan. Jika yang
ku lakukan salah, ku harap hal baik tetap berlaku untuk mu. Izinkan aku untuk masih
menyebut nama mu dalam tangis dan kemalangan ku. Jika waktunya tapat dan aku
sudah pantas, izinkan aku mengatakan dua kata untuk mu. “Maaf” dan
“Terimakasih”.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)